Belajar Mencintai Badai

Aku pernah melihat seseorang

yang tidak pernah benar-benar tenang

bukan karena hidupnya berantakan,

tapi karena semesta seperti gemar mengujinya

tanpa jeda.


Dari luar, ia tampak biasa saja,

tertawa di waktu yang tepat,

menjawab seperlunya,

seolah hidupnya rapi dan terkendali.


Padahal aku tahu,

di dalam dirinya

angin tak pernah benar-benar berhenti berputar.


Ia seperti langit yang terus berubah

kadang terang dengan warna yang indah,

kadang gelap tanpa aba-aba,

namun anehnya,

tak pernah benar-benar runtuh.


Aku pernah bertanya dalam diam,

bagaimana caranya ia tetap berdiri

di tengah hidup yang tak pernah benar-benar bersahabat?


Lalu aku melihatnya lebih dekat

bukan saat ia kuat,

tapi saat ia lelah.


Di matanya ada sesuatu

yang tak semua orang mampu miliki:

keteguhan yang tidak berisik,

dan luka yang tidak meminta dimengerti.


Ia tidak menolak badai,

tidak juga berusaha mengalahkannya.

Ia hanya berdiri di sana,

membiarkan angin menerpa,

seolah berkata pada hidup:

“kalau memang ini jalanku, ya sudah.”


Dan dari situlah aku sadar

ia tidak sedang bertahan.


Ia sedang belajar mencintai badai

dengan cara yang paling sunyi.


Bukan dengan menerima tanpa rasa,

tapi dengan tetap merasa

tanpa pernah membiarkan dirinya hancur.


Ia tidak mencari pelangi,

ia menjadi pelangi itu sendiri

yang tetap ada,

meski hujan belum selesai.


Dan jujur saja,

dari semua orang yang pernah aku temui,

dialah satu-satunya

yang membuat kata “kuat”

terasa tidak berisik.


Karena ia tidak pernah mengaku kuat.


Ia hanya…

tidak pernah berhenti hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TRI PANTANGAN TAMANSISWA”

SESORAH TATA KRAMA

Tugas Bahasa Indonesia Contoh Proposal Senam Lansia