Ini Arahnya Kemana
Aku duduk di ruang tunggu yang sama
berkali-kali dengan wajah yang berbeda
menjawab pertanyaan yang serupa
seolah hidupku bisa diringkas
dalam beberapa kalimat yang rapi
“ceritakan tentang dirimu”
dan aku hampir percaya
bahwa aku tahu jawabannya
mereka mengangguk
tersenyum secukupnya
lalu berkata, “kami kabari nanti”
kalimat yang ringan
tapi jatuhnya berat
seperti pintu yang ditutup pelan
tanpa suara
hari-hari berjalan
atau mungkin hanya lewat
tanpa benar-benar singgah
aku mulai menghitung waktu
bukan dengan jam
tapi dengan harapan yang berkurang
satu per satu
tanpa bunyi
Hari demi hari
terasa seperti berdiri di lorong panjang
dengan banyak pintu
yang semuanya sempat terbuka sedikit
lalu tertutup lagi
sebelum aku sempat melihat isinya
aku bertanya dalam diam
ini arahnya kemana
apakah aku yang kurang
atau memang jalannya belum ada
aku ingin marah
tapi lelah lebih dulu datang
aku ingin menangis
tapi rasanya seperti menunggu izin
yang tidak pernah turun
dan di antara semua itu
aku masih bangun setiap pagi
merapikan diri
mengulang harapan yang sama
seperti ritual yang tidak pernah pasti
mungkin yang paling menyakitkan
bukan ditolak
tapi digantung
di antara “mungkin” dan “tidak”
sebuah tempat yang tidak punya nama
tapi cukup luas
untuk membuatku tersesat
di dalamnya
ini arahnya kemana
aku masih berjalan
meski tidak yakin
apakah ada yang benar-benar menunggu
di ujung sana
Komentar
Posting Komentar