Bukan Hari Ini
Sudah lama aku berdiri di ambang yang sama, kaki ingin melangkah, namun udara seperti menahanku kembali. Bukan karena tak berani. Bukan pula karena tak tahu arah. Hanya saja setiap kali kusiapkan diri untuk beranjak, ada sesuatu yang tak terlihat menarik ujung bajuku pelan. Aku lelah berada di ruang ini. Dindingnya menghafal napasku, lantainya tahu berat langkahku. Namun pintu itu seolah hanya setengah terbuka, cukup untuk memberi harap, tidak cukup untuk dilewati. Mungkin Tuhan sedang menunda. Mungkin aku yang belum selesai dengan pelajaran yang sama. Ada hari-hari ketika aku hampir pergi, mengemas keyakinan, melipat kecewa, meninggalkan jejak tanpa menoleh. Namun selalu saja waktu menggenggam pergelangan tanganku dan berbisik: belum. Maka aku bertahan. Bukan karena betah, melainkan karena percaya tak ada takdir yang salah alamat. Jika memang harus tinggal, kuatkan dadaku agar tak membatu. Jika memang harus menunggu, jangan biarkan harapku habis sebelum pintu itu benar-benar terbuka. ...