Musim yang Berbeda
Ia datang tanpa ragu, seperti seseorang yang telah selesai berunding dengan masa lalunya. Di matanya, aku bukan sekadar hari ini, melainkan alamat yang ingin ia tuju. Sementara aku masih sibuk menertawakan sore, menganggap cinta hanya percakapan ringan yang bisa ditinggalkan sebelum gelap benar-benar turun. Ia berbicara tentang rumah dengan suara yang tidak bergetar. Tentang keseriusan seolah itu adalah jalan lurus yang tinggal dilalui bersama. Aku mendengarnya dengan hati yang belum utuh. Di dadaku, cinta masih seperti burung, senang terbang rendah, tak ingin sangkar, meski itu terbuat dari niat yang paling tulus. Ia menggenggam tanganku bukan untuk bermain-main. Ada masa depan di sela jemarinya, ada kesungguhan yang tidak tahu caranya bercanda. Dan di situlah aku merasa kecil, bukan karena ia terlalu berat, tetapi karena aku masih ringan. Terlalu ringan untuk memikul sebuah kata bernama selamanya. Kami berdiri di ambang yang sama, namun musim kami berbeda. Ia telah menjadi tanah yang...