Postingan

Barangkali, Aku Tidak Sedang Bersedih

Barangkali, aku tidak sedang bersedih. Aku hanya terlalu lama hidup hingga lupa mengapa dulu aku begitu bersemangat untuk bangun setiap pagi. Aku masih bernapas. Jantungku masih setia memukul waktu. Tubuhku masih bekerja seperti mesin yang tak pernah protes. Lalu... siapa sebenarnya yang telah berhenti hidup? Manusia lucu. Kita diajari bertahan lebih lama daripada diajari mengerti mengapa harus bertahan. Sejak kecil, kita belajar berjalan, berlari, mengejar, memenangkan. Tak ada yang mengajarkan bagaimana menghadapi hari ketika semua yang dikejar sudah ada di tangan, tetapi hati tetap merasa seolah pulang ke rumah yang kosong. Aku sering bertanya kepada Tuhan, "Ya Allah, apa yang sebenarnya hilang?" Lalu aku sadar... Barangkali tidak ada yang hilang. Hanya ada sesuatu yang perlahan mati, tetapi tidak pernah diberi upacara pemakaman. Maka aku terus mencarinya. Padahal yang kucari telah lama menjadi tanah. Kesedihan yang paling sunyi bukanlah kehilangan seseorang. Melainkan saa...

Kupu-Kupu yang Akhirnya Terbang

Ada musim yang panjang sekali. Musim ketika seekor kupu-kupu lebih akrab dengan gelap daripada cahaya. Ia tinggal di dalam ruang sempit yang tak pernah dipilihnya sendiri. Mendengar dunia dari kejauhan, seperti mendengar riuh hujan dari balik jendela yang terkunci. Berkali-kali ia bertanya, apakah langit memang ada untuknya, atau hanya untuk mereka yang sejak awal dilahirkan dengan sayap sempurna. Hari-hari berlalu. Angin datang dan pergi. Daun-daun gugur tanpa pamit. Bahkan beberapa bunga yang dulu dijanjikan mekar, lebih dulu kehilangan warnanya. Namun waktu, seperti doa yang diam-diam bekerja, tak pernah benar-benar meninggalkannya. Sampai pada suatu pagi, ia mendapati dirinya berbeda. Bukan karena dunia berubah, bukan karena jalan menjadi lebih mudah, melainkan karena ia telah selesai berdamai dengan luka-lukanya. Maka perlahan, ia membuka sayap yang selama ini disembunyikan. Tak ada tepuk tangan. Tak ada sorak-sorai. Hanya langit yang luas, dan keberanian kecil yang tumbuh di dala...

Bahagia Kini Tak Berisik

Ada tenang yang tak lagi kucari di luar, ia tumbuh diam di dalam dada, seperti cahaya kecil yang tak padam, meski angin pernah berkali datang. Aku duduk bersama diriku sendiri, tanpa gelisah, tanpa ingin lari, dan untuk pertama kalinya, hening terasa seperti rumah. Bahagia kini tak berisik, ia hadir sederhana dalam napas yang utuh, dalam langkah yang tak dipaksa. Tak ada lagi yang perlu kubuktikan, tak ada yang harus kuraih tergesa, sebab di ruang yang sunyi ini, aku telah cukup… dan utuh adanya. Dan dari dalam, perlahan mengalir rasa itu damai yang jujur, bahagia yang tinggal, bukan sekadar singgah.

Harapan Itu Nyata

Di ambang pagi yang pelan membuka mata, aku berdiri tanpa beban yang dulu tak terlihat, seperti daun yang akhirnya tahu arah jatuhnya, tanpa ragu, tanpa takut pada tanah. Ada hari-hari panjang yang pernah kupeluk, sunyi yang berisik, lelah yang tak bernama, namun waktu seperti sungai sabar mengikis segala yang terlalu lama tinggal. Kini angin terasa berbeda, lebih ringan, lebih jujur menyapa kulit, seakan semesta berbisik pelan, “sudah cukup, kau boleh melangkah.” Tak ada amarah yang kubawa, hanya jejak-jejak kecil yang perlahan pudar, dan langkah baru yang tak lagi menoleh, pada pintu yang kini kututup dengan tenang. Aku memilih jalan yang belum kupahami, namun terasa lapang di dalam dada, seperti langit setelah hujan panjang, jernih… dan akhirnya, damai.

Akhirnya Ia Datang

Ia datang tanpa gemuruh, tanpa janji yang berisik di awal waktu, hanya langkah yang tetap, dan hati yang tak berubah arah. Di sisinya, aku tak perlu bertanya berulang, sebab hadirnya selalu utuh tenang, dalam, seperti laut yang tak perlu membuktikan luasnya. Ia memahami tanpa banyak kata, mendengar bahkan saat aku diam, dan menggenggam bukan untuk menahan, melainkan menemani dengan pasti. Ada hangat yang sederhana, stabil seperti pagi yang selalu kembali, dan dalam diamnya, aku merasa dijaga tanpa harus diminta. Ketika kami berdiri berdampingan, dalam hening yang mengarah ke langit, ia melangkah sedikit di depan, membimbing doa dengan lembut dan yakin. Dan di sana aku mengerti cinta tak selalu tentang riuh dan api, kadang ia adalah teduh yang menetap, yang membuat hati pulang… tanpa ragu.

Terimakasih Tuhan

 Di tiap napas yang datang tanpa kuminta, ada kasih yang tak pernah berhenti mengalir, lembut… bahkan saat aku tak menyadarinya. Dalam langkah yang dulu terasa berat, Engkau sisipkan arah tanpa banyak suara, hingga aku tiba di tempat yang lebih lapang, dengan hati yang perlahan mengerti. Apa yang datang, tak selalu mudah, namun selalu cukup untuk membuatku tumbuh, dan di balik yang sempat terasa hilang, Engkau gantikan dengan yang lebih menenangkan. Kini aku tak lagi menghitung kekurangan, sebab di sekelilingku, begitu banyak hal kecil yang Kau cukupkan tanpa pernah ku minta satu per satu. Maka dalam diam yang penuh ini, aku menunduk dengan hati yang utuh, mengucap syukur yang tak selesai-selesai, atas semua yang Kau beri yang terlihat… dan yang diam-diam menyelamatkanku.

Ini Arahnya Kemana

Aku duduk di ruang tunggu yang sama berkali-kali dengan wajah yang berbeda menjawab pertanyaan yang serupa seolah hidupku bisa diringkas dalam beberapa kalimat yang rapi “ceritakan tentang dirimu” dan aku hampir percaya bahwa aku tahu jawabannya mereka mengangguk tersenyum secukupnya lalu berkata, “kami kabari nanti” kalimat yang ringan tapi jatuhnya berat seperti pintu yang ditutup pelan tanpa suara hari-hari berjalan atau mungkin hanya lewat tanpa benar-benar singgah aku mulai menghitung waktu bukan dengan jam tapi dengan harapan yang berkurang satu per satu tanpa bunyi Hari demi hari terasa seperti berdiri di lorong panjang dengan banyak pintu yang semuanya sempat terbuka sedikit lalu tertutup lagi sebelum aku sempat melihat isinya aku bertanya dalam diam ini arahnya kemana apakah aku yang kurang atau memang jalannya belum ada aku ingin marah tapi lelah lebih dulu datang aku ingin menangis tapi rasanya seperti menunggu izin yang tidak pernah turun dan di antara semua itu aku masih b...