Postingan

Rindu Yang Diam Diam Menetap

Ada yang sengaja dijauhkan, bukan karena tak mungkin, melainkan karena terlalu mungkin untuk menjadi sesuatu yang tak terkendali. Tak pernah ada yang benar-benar dimulai, namun entah bagaimana, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat dimiliki. Beberapa hal memilih tetap samar, tinggal sebagai “hampir” yang tak pernah diberi kesempatan menjadi nyata. Dan di antara semua yang tak terjadi itu, ada satu yang paling sulit pergi, rindu yang diam-diam menetap, mendung, dan tak pernah tahu kapan harus berhenti.

Semesta Sedang Bercanda

Semesta memang suka bercanda, mempertemukan kembali di waktu yang jelas-jelas tidak tepat. Dulu biasa saja, bahkan nyaris tak layak diingat, hanya bagian kecil dari masa yang lewat tanpa banyak arti. Tapi lihat sekarang hidup sudah berjalan ke arah masing-masing, cerita sudah ditutup rapi, bahkan status pun sudah tak bisa diganggu gugat. Dan anehnya, justru di titik ini semesta merasa perlu mempertemukan lagi. Lebih rapi, lebih dewasa, dan entah kenapa… lebih menarik dari yang seharusnya. Lucu, ya yang dulu terasa biasa, sekarang justru datang dengan versi terbaiknya, di saat ia sudah bukan siapa-siapa. Aku hanya bisa diam, menertawakan kebetulan yang terlalu disengaja, sambil berpikir kenapa harus sekarang saat segalanya sudah tidak mungkin, dan sialnya… ia malah terlihat lebih memikat.

Yang Tidak Aku Pilih

Aku tidak memanggilmu, tidak juga menunggumu datang. Namamu bahkan tidak kusebut dalam doa-doa yang kupilih dengan sadar. Tapi entah kenapa, di sela sunyi yang tidak berniat apa-apa, kamu muncul seperti bayangan yang tidak pernah kuundang. Tidak keras, tidak juga dalam, hanya cukup untuk membuat jantungku mengingat sesuatu yang tidak pernah kuizinkan tumbuh. Ini bukan rindu. Bukan pula cinta. Hanya semacam gema dari tawa-tawa kecil yang terlalu ringan untuk dianggap, namun terlalu nyata untuk diabaikan. Aku tidak menginginkanmu, dan mungkin itu yang paling jujur. Namun tubuh ini, dengan caranya sendiri yang aneh, terus mengkhianati keputusan yang sudah kupastikan. Ada jarak, ada batas, ada versi diriku yang tetap berdiri tegak dan tidak bergerak mendekat. Tapi di dalam, sesuatu berdenyut, tanpa arah, tanpa tujuan, seperti pesan yang salah alamat namun tetap terkirim. Dan mungkin ini bukan tentangmu. Mungkin ini hanya tentang bagaimana sesuatu yang kecil bisa tinggal terlalu lama di rua...

Di Antara Bercanda

Kita mulai dari hal remeh, kata-kata yang dilempar tanpa niat, tawa yang seolah ringan, seolah tidak menyimpan apa-apa. Kamu bilang tidak ada yang membuatmu semangat, aku menjawab sekenanya, seperti dua orang yang sama-sama pura-pura tidak sedang saling memperhatikan lebih dari seharusnya. Di sela candaan, ada kalimat yang hampir jujur, lalu cepat-cepat dibungkus lagi dengan tawa  seolah itu cukup untuk meniadakan maknanya. Kamu mendorong sedikit, aku menahan sedikit. Kita saling mendekat tanpa pernah benar-benar mengaku sedang mendekat. Ada hal-hal yang kita bilang main-main, tentang dekat, tentang sentuhan, tentang rasa, padahal kita tahu, tidak semuanya benar-benar bercanda. Namun tidak ada yang berani berhenti di satu titik dan berkata, “ini sebenarnya apa?” Jadi kita lanjut saja, menyembunyikan kemungkinan di balik kalimat setengah serius, dan menjaga jarak di dalam keakraban yang terasa terlalu mudah. Dan mungkin memang begitu seharusnya, kita, yang saling menemukan nyaman ta...

Keinginan

Ada keinginan yang tumbuh diam-diam di sudut paling sunyi dari pikiranku. Bukan teriakan. Bukan pula ratapan. Hanya sebuah hasrat yang tenang untuk menghilang dari peta dunia. Seperti kabut yang memutuskan tak lagi menjadi bagian dari pagi. Aku membayangkan diriku larut perlahan ke dalam ruang yang tak bernama, tempat di mana tidak ada yang memanggil, tidak ada yang menuntut, tidak ada yang perlu dijelaskan. Sebab hidup kadang terasa seperti lorong panjang tanpa jendela, dan langkah kaki sendiri menjadi gema yang melelahkan. Di lorong itu aku sering bertanya pada bayanganku sendiri: bagaimana rasanya jika suatu hari namaku berhenti bergema di dunia? Jika keberadaanku perlahan dilipat oleh waktu seperti surat lama yang tak pernah lagi dibaca? Mungkin tidak akan ada yang berubah. Langit tetap luas. Angin tetap berjalan. Dan bumi akan terus berputar tanpa menyadari satu jiwa telah memilih menjadi sunyi yang tak lagi ditemukan oleh siapa pun.

Kepalaku Seperti Langit

Kepalaku seperti langit yang dipenuhi burung-burung gelisah. Mereka berputar tanpa arah, menabrak satu sama lain, menciptakan riuh yang tak terlihat oleh siapa pun. Di luar semuanya tampak biasa saja. Orang-orang berjalan, hari tetap bergerak, dunia tidak berhenti. Namun di dalam diriku ada sesuatu yang terus berisik. Seperti ombak yang tak pernah selesai menghantam karang di ruang yang sempit bernama kepala. Aku ingin diam. Benar-benar diam. Tapi pikiranku seperti angin musim timur, keras, panjang, dan tak pernah tahu kapan harus pulang. Maka aku hanya menunduk di tengah keramaian dunia dengan satu harapan kecil: semoga suatu saat kepalaku kembali menjadi langit yang tenang, dan semua burung gelisah itu akhirnya menemukan arah pulang.

Tuhan

 Tuhan, ada terlalu banyak kisah yang berdesakan di dadaku. Seperti kereta terakhir yang dipenuhi penumpang yang semuanya ingin pulang bersamaan. Aku ingin menyebutkan satu per satu pada-Mu, tentang lelah yang tak sempat kuakui, tentang sunyi yang diam-diam tumbuh di sela napasku sendiri. Namun setiap kali bibirku hendak membuka doa, kata-kata mendadak menjadi asing. Mereka berdiri di tenggorokanku seperti tamu yang lupa namanya sendiri. Aku mencoba berbicara, Tuhan. Sungguh. Tapi suaraku justru tenggelam di dalam dada yang terlalu penuh oleh hal-hal yang tak pernah kupelajari cara menjelaskannya. Maka aku hanya diam. Dan dalam diam itu yang akhirnya menemukan jalan pulang bukanlah kata-kata. melainkan sepasang mata yang perlahan runtuh. Sebab ketika mulutku tak mampu berkata apa-apa, akhirnya mata yang berbicara atas nama seluruh isi hatiku.