Postingan

Bukan Hari Ini

Sudah lama aku berdiri di ambang yang sama, kaki ingin melangkah, namun udara seperti menahanku kembali. Bukan karena tak berani. Bukan pula karena tak tahu arah. Hanya saja setiap kali kusiapkan diri untuk beranjak, ada sesuatu yang tak terlihat menarik ujung bajuku pelan. Aku lelah berada di ruang ini. Dindingnya menghafal napasku, lantainya tahu berat langkahku. Namun pintu itu seolah hanya setengah terbuka, cukup untuk memberi harap, tidak cukup untuk dilewati. Mungkin Tuhan sedang menunda. Mungkin aku yang belum selesai dengan pelajaran yang sama. Ada hari-hari ketika aku hampir pergi, mengemas keyakinan, melipat kecewa, meninggalkan jejak tanpa menoleh. Namun selalu saja waktu menggenggam pergelangan tanganku dan berbisik: belum. Maka aku bertahan. Bukan karena betah, melainkan karena percaya tak ada takdir yang salah alamat. Jika memang harus tinggal, kuatkan dadaku agar tak membatu. Jika memang harus menunggu, jangan biarkan harapku habis sebelum pintu itu benar-benar terbuka. ...

Jeda

Kita tidak pernah membicarakan tentang selamanya. Hanya tentang hari ini, dan esok yang terasa cukup. Namun akhir-akhir ini namaku tak lagi singgah utuh di suaramu. Aku mengenali perubahan bukan dari kata, melainkan dari cara kau memandang kosong lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang kau simpan diam diam. Aku tidak mencarinya. Tidak juga menuduh. Hanya berdiri di tempat yang sama dan merasakan jarak yang tak terlihat. Kita masih berjalan berdampingan. Masih tertawa pada hal-hal kecil. Namun di sela-sela itu ada ruang tipis yang tak lagi bisa kuisi. Jika memang hatimu sedang belajar menyebut nama lain dalam diamnya, aku tak akan memaksa untuk menjadi satu-satunya gema. Aku tidak akan bertanya. Tidak pula memohon. Sebab mencintai tidak pernah tentang bertahan di tempat yang mulai ragu. Jika suatu hari langkahmu tak lagi searah denganku, aku akan mengangguk pelan, seolah memang sejak awal kita hanya persinggahan. Aku tak ingin menjadi jeda di antara dua kemungkinan. Aku siap melangka...

Di Antara Doa yang Kusembunyikan di Laci Meja

Aku sudah menundukkan kepala lebih rendah dari biasanya, bukan pada atasan, bukan pada angka-angka yang menuntut selesai, melainkan pada Mu. Di sela kesibukan yang tak pernah benar-benar selesai, di antara tumpukan berkas dan layar yang menyala, aku menyelipkan doa seperti kertas kecil yang kusimpan di laci paling dalam. Aku lelah, Tuhan. Namun lelahku kupelajari agar tidak berisik. Muakku kupeluk agar tak berubah menjadi amarah. Setiap kali langkahku kembali ke kursi yang sama, aku berkata dalam hati: mungkin ini belum waktunya. Mungkin Engkau sedang menata jalan yang belum sanggup kulihat. Sudah berkali-kali aku mengetuk pintu yang tak kunjung terbuka. Sudah berkali-kali namaku menghilang dalam sunyi balasan. Dengan segala kerendahan, aku tidak meminta lebih. Hanya jalan yang lapang. Hanya tempat yang tidak menggerus perlahan-lahan isi dadaku. Jika memang harus menunggu, kuatkan aku untuk tetap utuh. Jika memang harus pergi, bukakan pintu tanpa membuatku kehilangan harga diri. Aku in...

Musim yang Berbeda

Ia datang tanpa ragu, seperti seseorang yang telah selesai berunding dengan masa lalunya. Di matanya, aku bukan sekadar hari ini, melainkan alamat yang ingin ia tuju. Sementara aku masih sibuk menertawakan sore, menganggap cinta hanya percakapan ringan yang bisa ditinggalkan sebelum gelap benar-benar turun. Ia berbicara tentang rumah dengan suara yang tidak bergetar. Tentang keseriusan seolah itu adalah jalan lurus yang tinggal dilalui bersama. Aku mendengarnya dengan hati yang belum utuh. Di dadaku, cinta masih seperti burung, senang terbang rendah, tak ingin sangkar, meski itu terbuat dari niat yang paling tulus. Ia menggenggam tanganku bukan untuk bermain-main. Ada masa depan di sela jemarinya, ada kesungguhan yang tidak tahu caranya bercanda. Dan di situlah aku merasa kecil, bukan karena ia terlalu berat, tetapi karena aku masih ringan. Terlalu ringan untuk memikul sebuah kata bernama selamanya. Kami berdiri di ambang yang sama, namun musim kami berbeda. Ia telah menjadi tanah yang...

Embun

Malam turun seperti selimut tipis yang ditenun dari napas musim dingin. Kaca berembun, menyimpan rahasia yang tak ingin jatuh menjadi kata. Di antara bayang dan cahaya yang samar, ia mendekat, pelan, seolah takut mengusik hening yang sedang bermekaran. Tangannya melingkar, bukan sekadar pada pinggang, melainkan pada jarak yang sejak lama ingin dipendekkan. Tarikannya lembut, seperti arus kecil yang tahu ke mana harus bermuara. Ia berlabuh di dadanya, di antara detak yang hangat dan udara yang menggigil. Tak ada janji yang diucapkan, namun pelukan itu seperti doa yang tak bersuara, utuh, tenang, abadi dalam sesaat. Perempuan itu diam, Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam lingkar yang aman, seolah dunia di luar kaca tak lebih dari kabut yang tak perlu dimengerti. Embun perlahan menetes, membuat garis-garis tipis yang menyerupai takdir yang tak ingin tergesa. Di dalam pelukan itu dingin berubah arti, bukan lagi tentang suhu, melainkan alasan untuk saling mendekat tanpa perlu alasan lain....

Yang Hampir Menjadi Malam

Tidak ada yang benar-benar menyentuh, hanya jarak yang pelan-pelan kehilangan definisinya. Ia berdiri di belakangmu seperti bayangan yang setia, tidak meminta cahaya, tidak juga pergi. Ada sesuatu yang singgah Pelan tapi pasti, Penuh keberanian, Dan keheningan memilih untuk tinggal sedikit lebih lama. Udara berubah suhu. Waktu melambat tanpa alasan. Kau bisa saja melangkah. Ia bisa saja mendekat. Namun yang terjadi hanya sebuah lingkar tak terlihat yang mengurung kalian dalam detik yang terlalu rapuh untuk diganggu. Ia tidak memelukmu. Ia hanya menjadi ruang yang membuatmu merasa tidak sendirian. Dan anehnya, yang membuat jantungmu bergetar bukan kemungkinan untuk lebih, melainkan fakta bahwa ia menahan diri. Karena cinta yang dewasa bukan tentang seberapa jauh berani melangkah, melainkan seberapa dalam sanggup berhenti. Malam itu tidak meninggalkan jejak. Tidak ada janji. Tidak ada kata. Hanya dua napas yang saling tahu bahwa ada sesuatu yang bisa saja menjadi badai, namun memilih men...

Yang Tak Bisa Dimiliki

Namanya tidak pernah ia sebut keras-keras. Karena yang indah, jika dipanggil terlalu sering, akan kehilangan gaungnya. Ia berjalan dengan tenang seperti seseorang yang sudah pernah kehilangan arah dan memilih untuk tidak tersesat lagi. Matanya bukan sekadar magnet. Ia adalah jurang yang sadar berapa dalam ia mengizinkan orang jatuh. Banyak yang mengira ia bermain. Padahal ia hanya menimbang. Banyak yang mengira ia ringan. Padahal ia hanya tidak mau terlihat berat. Ia tahu bagaimana rasanya menaruh seluruh langit di satu telapak, lalu menyaksikan langit itu runtuh tanpa suara. Sejak itu, ia belajar memelihara api di ruang yang tak bisa disentuh sembarang tangan. Ia tidak cemburu. Ia tidak berebut. Ia tidak menuntut dipilih. Karena perempuan yang tahu nilainya tidak berdiri di antrean. Jika ada yang datang dengan cerita tentang perempuan lain, ia hanya menggeser jarak setipis angin. Tidak marah. Tidak kecewa. Hanya menutup pintu yang bahkan belum dibuka. Ia bukan lembut seperti kapas. Ia...