Di Antara Doa yang Kusembunyikan di Laci Meja
Aku sudah menundukkan kepala lebih rendah dari biasanya, bukan pada atasan, bukan pada angka-angka yang menuntut selesai, melainkan pada Mu. Di sela kesibukan yang tak pernah benar-benar selesai, di antara tumpukan berkas dan layar yang menyala, aku menyelipkan doa seperti kertas kecil yang kusimpan di laci paling dalam. Aku lelah, Tuhan. Namun lelahku kupelajari agar tidak berisik. Muakku kupeluk agar tak berubah menjadi amarah. Setiap kali langkahku kembali ke kursi yang sama, aku berkata dalam hati: mungkin ini belum waktunya. Mungkin Engkau sedang menata jalan yang belum sanggup kulihat. Sudah berkali-kali aku mengetuk pintu yang tak kunjung terbuka. Sudah berkali-kali namaku menghilang dalam sunyi balasan. Dengan segala kerendahan, aku tidak meminta lebih. Hanya jalan yang lapang. Hanya tempat yang tidak menggerus perlahan-lahan isi dadaku. Jika memang harus menunggu, kuatkan aku untuk tetap utuh. Jika memang harus pergi, bukakan pintu tanpa membuatku kehilangan harga diri. Aku in...