Postingan

Chapter 1 Finish

Ada tenang yang tak lagi kucari di luar, ia tumbuh diam di dalam dada, seperti cahaya kecil yang tak padam, meski angin pernah berkali datang. Aku duduk bersama diriku sendiri, tanpa gelisah, tanpa ingin lari, dan untuk pertama kalinya, hening terasa seperti rumah. Bahagia kini tak berisik, ia hadir sederhana dalam napas yang utuh, dalam langkah yang tak dipaksa. Tak ada lagi yang perlu kubuktikan, tak ada yang harus kuraih tergesa, sebab di ruang yang sunyi ini, aku telah cukup… dan utuh adanya. Dan dari dalam, perlahan mengalir rasa itu damai yang jujur, bahagia yang tinggal, bukan sekadar singgah.

Harapan Itu Nyata

Di ambang pagi yang pelan membuka mata, aku berdiri tanpa beban yang dulu tak terlihat, seperti daun yang akhirnya tahu arah jatuhnya, tanpa ragu, tanpa takut pada tanah. Ada hari-hari panjang yang pernah kupeluk, sunyi yang berisik, lelah yang tak bernama, namun waktu seperti sungai sabar mengikis segala yang terlalu lama tinggal. Kini angin terasa berbeda, lebih ringan, lebih jujur menyapa kulit, seakan semesta berbisik pelan, “sudah cukup, kau boleh melangkah.” Tak ada amarah yang kubawa, hanya jejak-jejak kecil yang perlahan pudar, dan langkah baru yang tak lagi menoleh, pada pintu yang kini kututup dengan tenang. Aku memilih jalan yang belum kupahami, namun terasa lapang di dalam dada, seperti langit setelah hujan panjang, jernih… dan akhirnya, damai.

Akhirnya Ia Datang

Ia datang tanpa gemuruh, tanpa janji yang berisik di awal waktu, hanya langkah yang tetap, dan hati yang tak berubah arah. Di sisinya, aku tak perlu bertanya berulang, sebab hadirnya selalu utuh tenang, dalam, seperti laut yang tak perlu membuktikan luasnya. Ia memahami tanpa banyak kata, mendengar bahkan saat aku diam, dan menggenggam bukan untuk menahan, melainkan menemani dengan pasti. Ada hangat yang sederhana, stabil seperti pagi yang selalu kembali, dan dalam diamnya, aku merasa dijaga tanpa harus diminta. Ketika kami berdiri berdampingan, dalam hening yang mengarah ke langit, ia melangkah sedikit di depan, membimbing doa dengan lembut dan yakin. Dan di sana aku mengerti cinta tak selalu tentang riuh dan api, kadang ia adalah teduh yang menetap, yang membuat hati pulang… tanpa ragu.

Terimakasih Tuhan

 Di tiap napas yang datang tanpa kuminta, ada kasih yang tak pernah berhenti mengalir, lembut… bahkan saat aku tak menyadarinya. Dalam langkah yang dulu terasa berat, Engkau sisipkan arah tanpa banyak suara, hingga aku tiba di tempat yang lebih lapang, dengan hati yang perlahan mengerti. Apa yang datang, tak selalu mudah, namun selalu cukup untuk membuatku tumbuh, dan di balik yang sempat terasa hilang, Engkau gantikan dengan yang lebih menenangkan. Kini aku tak lagi menghitung kekurangan, sebab di sekelilingku, begitu banyak hal kecil yang Kau cukupkan tanpa pernah ku minta satu per satu. Maka dalam diam yang penuh ini, aku menunduk dengan hati yang utuh, mengucap syukur yang tak selesai-selesai, atas semua yang Kau beri yang terlihat… dan yang diam-diam menyelamatkanku.

Ini Arahnya Kemana

Aku duduk di ruang tunggu yang sama berkali-kali dengan wajah yang berbeda menjawab pertanyaan yang serupa seolah hidupku bisa diringkas dalam beberapa kalimat yang rapi “ceritakan tentang dirimu” dan aku hampir percaya bahwa aku tahu jawabannya mereka mengangguk tersenyum secukupnya lalu berkata, “kami kabari nanti” kalimat yang ringan tapi jatuhnya berat seperti pintu yang ditutup pelan tanpa suara hari-hari berjalan atau mungkin hanya lewat tanpa benar-benar singgah aku mulai menghitung waktu bukan dengan jam tapi dengan harapan yang berkurang satu per satu tanpa bunyi Hari demi hari terasa seperti berdiri di lorong panjang dengan banyak pintu yang semuanya sempat terbuka sedikit lalu tertutup lagi sebelum aku sempat melihat isinya aku bertanya dalam diam ini arahnya kemana apakah aku yang kurang atau memang jalannya belum ada aku ingin marah tapi lelah lebih dulu datang aku ingin menangis tapi rasanya seperti menunggu izin yang tidak pernah turun dan di antara semua itu aku masih b...

Ketika Luka Belajar Bertahan

Di antara detak yang tak lagi ingin didengar, ia merunduk ke dalam sunyi yang lebih tua dari namanya membiarkan dirinya larut pada sesuatu yang tak pernah benar-benar ia mengerti. Langit tak menjawab, atau mungkin jawabannya terlalu sunyi hingga hanya luka yang mampu menerjemahkan. Ada sesuatu yang pecah jauh di dalam dirinya, bukan sekali, melainkan berulang seperti kaca yang tak pernah benar-benar selesai retak, seperti malam yang menolak habis meski fajar berkali-kali lahir. Ia tidak lagi membedakan mana takut, mana lelah, semuanya telah berbaur menjadi kabut pekat yang ia hirup setiap hari tanpa pernah sempat ia tolak. Dan di sela napas yang nyaris putus, terdengar sesuatu yang bukan kata-kata semacam sisa keyakinan yang bertahan seperti nyala paling kecil di ujung angin yang kejam. Ia tidak meminta terang, sebab ia tahu cahaya pun bisa menyilaukan luka. Ia hanya ingin tidak sepenuhnya hilang di dalam dirinya sendiri. Ada rasa yang jatuh perlahan, bukan lagi tangis, bukan pula doa,...

Belajar Mencintai Badai

Aku pernah melihat seseorang yang tidak pernah benar-benar tenang bukan karena hidupnya berantakan, tapi karena semesta seperti gemar mengujinya tanpa jeda. Dari luar, ia tampak biasa saja, tertawa di waktu yang tepat, menjawab seperlunya, seolah hidupnya rapi dan terkendali. Padahal aku tahu, di dalam dirinya angin tak pernah benar-benar berhenti berputar. Ia seperti langit yang terus berubah kadang terang dengan warna yang indah, kadang gelap tanpa aba-aba, namun anehnya, tak pernah benar-benar runtuh. Aku pernah bertanya dalam diam, bagaimana caranya ia tetap berdiri di tengah hidup yang tak pernah benar-benar bersahabat? Lalu aku melihatnya lebih dekat bukan saat ia kuat, tapi saat ia lelah. Di matanya ada sesuatu yang tak semua orang mampu miliki: keteguhan yang tidak berisik, dan luka yang tidak meminta dimengerti. Ia tidak menolak badai, tidak juga berusaha mengalahkannya. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan angin menerpa, seolah berkata pada hidup: “kalau memang ini jalanku, y...