Postingan

Yang Tidak Aku Pilih

Aku tidak memanggilmu, tidak juga menunggumu datang. Namamu bahkan tidak kusebut dalam doa-doa yang kupilih dengan sadar. Tapi entah kenapa, di sela sunyi yang tidak berniat apa-apa, kamu muncul seperti bayangan yang tidak pernah kuundang. Tidak keras, tidak juga dalam, hanya cukup untuk membuat jantungku mengingat sesuatu yang tidak pernah kuizinkan tumbuh. Ini bukan rindu. Bukan pula cinta. Hanya semacam gema dari tawa-tawa kecil yang terlalu ringan untuk dianggap, namun terlalu nyata untuk diabaikan. Aku tidak menginginkanmu, dan mungkin itu yang paling jujur. Namun tubuh ini, dengan caranya sendiri yang aneh, terus mengkhianati keputusan yang sudah kupastikan. Ada jarak, ada batas, ada versi diriku yang tetap berdiri tegak dan tidak bergerak mendekat. Tapi di dalam, sesuatu berdenyut, tanpa arah, tanpa tujuan, seperti pesan yang salah alamat namun tetap terkirim. Dan mungkin ini bukan tentangmu. Mungkin ini hanya tentang bagaimana sesuatu yang kecil bisa tinggal terlalu lama di rua...

Di Antara Bercanda

Kita mulai dari hal remeh, kata-kata yang dilempar tanpa niat, tawa yang seolah ringan, seolah tidak menyimpan apa-apa. Kamu bilang tidak ada yang membuatmu semangat, aku menjawab sekenanya, seperti dua orang yang sama-sama pura-pura tidak sedang saling memperhatikan lebih dari seharusnya. Di sela candaan, ada kalimat yang hampir jujur, lalu cepat-cepat dibungkus lagi dengan tawa  seolah itu cukup untuk meniadakan maknanya. Kamu mendorong sedikit, aku menahan sedikit. Kita saling mendekat tanpa pernah benar-benar mengaku sedang mendekat. Ada hal-hal yang kita bilang main-main, tentang dekat, tentang sentuhan, tentang rasa, padahal kita tahu, tidak semuanya benar-benar bercanda. Namun tidak ada yang berani berhenti di satu titik dan berkata, “ini sebenarnya apa?” Jadi kita lanjut saja, menyembunyikan kemungkinan di balik kalimat setengah serius, dan menjaga jarak di dalam keakraban yang terasa terlalu mudah. Dan mungkin memang begitu seharusnya, kita, yang saling menemukan nyaman ta...

Keinginan

Ada keinginan yang tumbuh diam-diam di sudut paling sunyi dari pikiranku. Bukan teriakan. Bukan pula ratapan. Hanya sebuah hasrat yang tenang untuk menghilang dari peta dunia. Seperti kabut yang memutuskan tak lagi menjadi bagian dari pagi. Aku membayangkan diriku larut perlahan ke dalam ruang yang tak bernama, tempat di mana tidak ada yang memanggil, tidak ada yang menuntut, tidak ada yang perlu dijelaskan. Sebab hidup kadang terasa seperti lorong panjang tanpa jendela, dan langkah kaki sendiri menjadi gema yang melelahkan. Di lorong itu aku sering bertanya pada bayanganku sendiri: bagaimana rasanya jika suatu hari namaku berhenti bergema di dunia? Jika keberadaanku perlahan dilipat oleh waktu seperti surat lama yang tak pernah lagi dibaca? Mungkin tidak akan ada yang berubah. Langit tetap luas. Angin tetap berjalan. Dan bumi akan terus berputar tanpa menyadari satu jiwa telah memilih menjadi sunyi yang tak lagi ditemukan oleh siapa pun.

Kepalaku Seperti Langit

Kepalaku seperti langit yang dipenuhi burung-burung gelisah. Mereka berputar tanpa arah, menabrak satu sama lain, menciptakan riuh yang tak terlihat oleh siapa pun. Di luar semuanya tampak biasa saja. Orang-orang berjalan, hari tetap bergerak, dunia tidak berhenti. Namun di dalam diriku ada sesuatu yang terus berisik. Seperti ombak yang tak pernah selesai menghantam karang di ruang yang sempit bernama kepala. Aku ingin diam. Benar-benar diam. Tapi pikiranku seperti angin musim timur, keras, panjang, dan tak pernah tahu kapan harus pulang. Maka aku hanya menunduk di tengah keramaian dunia dengan satu harapan kecil: semoga suatu saat kepalaku kembali menjadi langit yang tenang, dan semua burung gelisah itu akhirnya menemukan arah pulang.

Tuhan

 Tuhan, ada terlalu banyak kisah yang berdesakan di dadaku. Seperti kereta terakhir yang dipenuhi penumpang yang semuanya ingin pulang bersamaan. Aku ingin menyebutkan satu per satu pada-Mu, tentang lelah yang tak sempat kuakui, tentang sunyi yang diam-diam tumbuh di sela napasku sendiri. Namun setiap kali bibirku hendak membuka doa, kata-kata mendadak menjadi asing. Mereka berdiri di tenggorokanku seperti tamu yang lupa namanya sendiri. Aku mencoba berbicara, Tuhan. Sungguh. Tapi suaraku justru tenggelam di dalam dada yang terlalu penuh oleh hal-hal yang tak pernah kupelajari cara menjelaskannya. Maka aku hanya diam. Dan dalam diam itu yang akhirnya menemukan jalan pulang bukanlah kata-kata. melainkan sepasang mata yang perlahan runtuh. Sebab ketika mulutku tak mampu berkata apa-apa, akhirnya mata yang berbicara atas nama seluruh isi hatiku.

Sore

Sore turun perlahan di bahu kota. Langit menggantung rendah, warnanya lelah, seperti hari yang terlalu lama dipakai berpikir. Di usia ini, hidup tidak lagi terasa seperti jalan lurus. Ia lebih mirip simpang yang penuh suara, arah yang saling memanggil, dan langkah yang sering ragu harus menuju ke mana. Ada hal-hal yang terus ikut berjalan di dalam kepala: tanggung jawab yang datang tanpa pernah benar-benar pamit, masa depan yang kadang terasa seperti kabut tipis di ujung jalan, dan waktu yang diam-diam bergerak lebih cepat dari yang sanggup kita kejar. Sesekali pikiran pulang ke rumah. Ke wajah orang tua yang dulu terasa kokoh seperti pohon tua, yang kini perlahan belajar menua bersama waktu. Ada keinginan sederhana untuk membuat mereka bangga, namun dunia sering terasa lebih rumit dari harapan itu. Ada pula cerita yang dulu dipercaya sebagai tempat kembali. Namun beberapa orang memang hanya singgah sebentar dalam hidup, meninggalkan ruang sunyi yang kadang tiba-tiba terasa lagi saat s...

Bukan Hari Ini

Sudah lama aku berdiri di ambang yang sama, kaki ingin melangkah, namun udara seperti menahanku kembali. Bukan karena tak berani. Bukan pula karena tak tahu arah. Hanya saja setiap kali kusiapkan diri untuk beranjak, ada sesuatu yang tak terlihat menarik ujung bajuku pelan. Aku lelah berada di ruang ini. Dindingnya menghafal napasku, lantainya tahu berat langkahku. Namun pintu itu seolah hanya setengah terbuka, cukup untuk memberi harap, tidak cukup untuk dilewati. Mungkin Tuhan sedang menunda. Mungkin aku yang belum selesai dengan pelajaran yang sama. Ada hari-hari ketika aku hampir pergi, mengemas keyakinan, melipat kecewa, meninggalkan jejak tanpa menoleh. Namun selalu saja waktu menggenggam pergelangan tanganku dan berbisik: belum. Maka aku bertahan. Bukan karena betah, melainkan karena percaya tak ada takdir yang salah alamat. Jika memang harus tinggal, kuatkan dadaku agar tak membatu. Jika memang harus menunggu, jangan biarkan harapku habis sebelum pintu itu benar-benar terbuka. ...