Ketika Luka Belajar Bertahan
Di antara detak yang tak lagi ingin didengar, ia merunduk ke dalam sunyi yang lebih tua dari namanya membiarkan dirinya larut pada sesuatu yang tak pernah benar-benar ia mengerti. Langit tak menjawab, atau mungkin jawabannya terlalu sunyi hingga hanya luka yang mampu menerjemahkan. Ada sesuatu yang pecah jauh di dalam dirinya, bukan sekali, melainkan berulang seperti kaca yang tak pernah benar-benar selesai retak, seperti malam yang menolak habis meski fajar berkali-kali lahir. Ia tidak lagi membedakan mana takut, mana lelah, semuanya telah berbaur menjadi kabut pekat yang ia hirup setiap hari tanpa pernah sempat ia tolak. Dan di sela napas yang nyaris putus, terdengar sesuatu yang bukan kata-kata semacam sisa keyakinan yang bertahan seperti nyala paling kecil di ujung angin yang kejam. Ia tidak meminta terang, sebab ia tahu cahaya pun bisa menyilaukan luka. Ia hanya ingin tidak sepenuhnya hilang di dalam dirinya sendiri. Ada rasa yang jatuh perlahan, bukan lagi tangis, bukan pula doa,...