Postingan

Menghilang

Ada keinginan yang tumbuh diam-diam di sudut paling sunyi dari pikiranku. Bukan teriakan. Bukan pula ratapan. Hanya sebuah hasrat yang tenang untuk menghilang dari peta dunia. Seperti kabut yang memutuskan tak lagi menjadi bagian dari pagi. Aku membayangkan diriku larut perlahan ke dalam ruang yang tak bernama, tempat di mana tidak ada yang memanggil, tidak ada yang menuntut, tidak ada yang perlu dijelaskan. Sebab hidup kadang terasa seperti lorong panjang tanpa jendela, dan langkah kaki sendiri menjadi gema yang melelahkan. Di lorong itu aku sering bertanya pada bayanganku sendiri: bagaimana rasanya jika suatu hari namaku berhenti bergema di dunia? Jika keberadaanku perlahan dilipat oleh waktu seperti surat lama yang tak pernah lagi dibaca? Mungkin tidak akan ada yang berubah. Langit tetap luas. Angin tetap berjalan. Dan bumi akan terus berputar tanpa menyadari satu jiwa telah memilih menjadi sunyi yang tak lagi ditemukan oleh siapa pun.

Kepala

Kepalaku seperti langit yang dipenuhi burung-burung gelisah. Mereka berputar tanpa arah, menabrak satu sama lain, menciptakan riuh yang tak terlihat oleh siapa pun. Di luar semuanya tampak biasa saja. Orang-orang berjalan, hari tetap bergerak, dunia tidak berhenti. Namun di dalam diriku ada sesuatu yang terus berisik. Seperti ombak yang tak pernah selesai menghantam karang di ruang yang sempit bernama kepala. Aku ingin diam. Benar-benar diam. Tapi pikiranku seperti angin musim timur, keras, panjang, dan tak pernah tahu kapan harus pulang. Maka aku hanya menunduk di tengah keramaian dunia dengan satu harapan kecil: semoga suatu saat kepalaku kembali menjadi langit yang tenang, dan semua burung gelisah itu akhirnya menemukan arah pulang.

Tuhan

 Tuhan, ada terlalu banyak kisah yang berdesakan di dadaku. Seperti kereta terakhir yang dipenuhi penumpang yang semuanya ingin pulang bersamaan. Aku ingin menyebutkan satu per satu pada-Mu, tentang lelah yang tak sempat kuakui, tentang sunyi yang diam-diam tumbuh di sela napasku sendiri. Namun setiap kali bibirku hendak membuka doa, kata-kata mendadak menjadi asing. Mereka berdiri di tenggorokanku seperti tamu yang lupa namanya sendiri. Aku mencoba berbicara, Tuhan. Sungguh. Tapi suaraku justru tenggelam di dalam dada yang terlalu penuh oleh hal-hal yang tak pernah kupelajari cara menjelaskannya. Maka aku hanya diam. Dan dalam diam itu yang akhirnya menemukan jalan pulang bukanlah kata-kata. melainkan sepasang mata yang perlahan runtuh. Sebab ketika mulutku tak mampu berkata apa-apa, akhirnya mata yang berbicara atas nama seluruh isi hatiku.

Sore

Sore turun perlahan di bahu kota. Langit menggantung rendah, warnanya lelah, seperti hari yang terlalu lama dipakai berpikir. Di usia ini, hidup tidak lagi terasa seperti jalan lurus. Ia lebih mirip simpang yang penuh suara, arah yang saling memanggil, dan langkah yang sering ragu harus menuju ke mana. Ada hal-hal yang terus ikut berjalan di dalam kepala: tanggung jawab yang datang tanpa pernah benar-benar pamit, masa depan yang kadang terasa seperti kabut tipis di ujung jalan, dan waktu yang diam-diam bergerak lebih cepat dari yang sanggup kita kejar. Sesekali pikiran pulang ke rumah. Ke wajah orang tua yang dulu terasa kokoh seperti pohon tua, yang kini perlahan belajar menua bersama waktu. Ada keinginan sederhana untuk membuat mereka bangga, namun dunia sering terasa lebih rumit dari harapan itu. Ada pula cerita yang dulu dipercaya sebagai tempat kembali. Namun beberapa orang memang hanya singgah sebentar dalam hidup, meninggalkan ruang sunyi yang kadang tiba-tiba terasa lagi saat s...

Bukan Hari Ini

Sudah lama aku berdiri di ambang yang sama, kaki ingin melangkah, namun udara seperti menahanku kembali. Bukan karena tak berani. Bukan pula karena tak tahu arah. Hanya saja setiap kali kusiapkan diri untuk beranjak, ada sesuatu yang tak terlihat menarik ujung bajuku pelan. Aku lelah berada di ruang ini. Dindingnya menghafal napasku, lantainya tahu berat langkahku. Namun pintu itu seolah hanya setengah terbuka, cukup untuk memberi harap, tidak cukup untuk dilewati. Mungkin Tuhan sedang menunda. Mungkin aku yang belum selesai dengan pelajaran yang sama. Ada hari-hari ketika aku hampir pergi, mengemas keyakinan, melipat kecewa, meninggalkan jejak tanpa menoleh. Namun selalu saja waktu menggenggam pergelangan tanganku dan berbisik: belum. Maka aku bertahan. Bukan karena betah, melainkan karena percaya tak ada takdir yang salah alamat. Jika memang harus tinggal, kuatkan dadaku agar tak membatu. Jika memang harus menunggu, jangan biarkan harapku habis sebelum pintu itu benar-benar terbuka. ...

Jeda

Kita tidak pernah membicarakan tentang selamanya. Hanya tentang hari ini, dan esok yang terasa cukup. Namun akhir-akhir ini namaku tak lagi singgah utuh di suaramu. Aku mengenali perubahan bukan dari kata, melainkan dari cara kau memandang kosong lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang kau simpan diam diam. Aku tidak mencarinya. Tidak juga menuduh. Hanya berdiri di tempat yang sama dan merasakan jarak yang tak terlihat. Kita masih berjalan berdampingan. Masih tertawa pada hal-hal kecil. Namun di sela-sela itu ada ruang tipis yang tak lagi bisa kuisi. Jika memang hatimu sedang belajar menyebut nama lain dalam diamnya, aku tak akan memaksa untuk menjadi satu-satunya gema. Aku tidak akan bertanya. Tidak pula memohon. Sebab mencintai tidak pernah tentang bertahan di tempat yang mulai ragu. Jika suatu hari langkahmu tak lagi searah denganku, aku akan mengangguk pelan, seolah memang sejak awal kita hanya persinggahan. Aku tak ingin menjadi jeda di antara dua kemungkinan. Aku siap melangka...

Di Antara Doa yang Kusembunyikan di Laci Meja

Aku sudah menundukkan kepala lebih rendah dari biasanya, bukan pada atasan, bukan pada angka-angka yang menuntut selesai, melainkan pada Mu. Di sela kesibukan yang tak pernah benar-benar selesai, di antara tumpukan berkas dan layar yang menyala, aku menyelipkan doa seperti kertas kecil yang kusimpan di laci paling dalam. Aku lelah, Tuhan. Namun lelahku kupelajari agar tidak berisik. Muakku kupeluk agar tak berubah menjadi amarah. Setiap kali langkahku kembali ke kursi yang sama, aku berkata dalam hati: mungkin ini belum waktunya. Mungkin Engkau sedang menata jalan yang belum sanggup kulihat. Sudah berkali-kali aku mengetuk pintu yang tak kunjung terbuka. Sudah berkali-kali namaku menghilang dalam sunyi balasan. Dengan segala kerendahan, aku tidak meminta lebih. Hanya jalan yang lapang. Hanya tempat yang tidak menggerus perlahan-lahan isi dadaku. Jika memang harus menunggu, kuatkan aku untuk tetap utuh. Jika memang harus pergi, bukakan pintu tanpa membuatku kehilangan harga diri. Aku in...