Postingan

Musim yang Berbeda

Ia datang tanpa ragu, seperti seseorang yang telah selesai berunding dengan masa lalunya. Di matanya, aku bukan sekadar hari ini, melainkan alamat yang ingin ia tuju. Sementara aku masih sibuk menertawakan sore, menganggap cinta hanya percakapan ringan yang bisa ditinggalkan sebelum gelap benar-benar turun. Ia berbicara tentang rumah dengan suara yang tidak bergetar. Tentang keseriusan seolah itu adalah jalan lurus yang tinggal dilalui bersama. Aku mendengarnya dengan hati yang belum utuh. Di dadaku, cinta masih seperti burung, senang terbang rendah, tak ingin sangkar, meski itu terbuat dari niat yang paling tulus. Ia menggenggam tanganku bukan untuk bermain-main. Ada masa depan di sela jemarinya, ada kesungguhan yang tidak tahu caranya bercanda. Dan di situlah aku merasa kecil, bukan karena ia terlalu berat, tetapi karena aku masih ringan. Terlalu ringan untuk memikul sebuah kata bernama selamanya. Kami berdiri di ambang yang sama, namun musim kami berbeda. Ia telah menjadi tanah yang...

Embun

Malam turun seperti selimut tipis yang ditenun dari napas musim dingin. Kaca berembun, menyimpan rahasia yang tak ingin jatuh menjadi kata. Di antara bayang dan cahaya yang samar, ia mendekat, pelan, seolah takut mengusik hening yang sedang bermekaran. Tangannya melingkar, bukan sekadar pada pinggang, melainkan pada jarak yang sejak lama ingin dipendekkan. Tarikannya lembut, seperti arus kecil yang tahu ke mana harus bermuara. Ia berlabuh di dadanya, di antara detak yang hangat dan udara yang menggigil. Tak ada janji yang diucapkan, namun pelukan itu seperti doa yang tak bersuara, utuh, tenang, abadi dalam sesaat. Perempuan itu diam, Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam lingkar yang aman, seolah dunia di luar kaca tak lebih dari kabut yang tak perlu dimengerti. Embun perlahan menetes, membuat garis-garis tipis yang menyerupai takdir yang tak ingin tergesa. Di dalam pelukan itu dingin berubah arti, bukan lagi tentang suhu, melainkan alasan untuk saling mendekat tanpa perlu alasan lain....

Yang Hampir Menjadi Malam

Tidak ada yang benar-benar menyentuh, hanya jarak yang pelan-pelan kehilangan definisinya. Ia berdiri di belakangmu seperti bayangan yang setia, tidak meminta cahaya, tidak juga pergi. Ada sesuatu yang singgah Pelan tapi pasti, Penuh keberanian, Dan keheningan memilih untuk tinggal sedikit lebih lama. Udara berubah suhu. Waktu melambat tanpa alasan. Kau bisa saja melangkah. Ia bisa saja mendekat. Namun yang terjadi hanya sebuah lingkar tak terlihat yang mengurung kalian dalam detik yang terlalu rapuh untuk diganggu. Ia tidak memelukmu. Ia hanya menjadi ruang yang membuatmu merasa tidak sendirian. Dan anehnya, yang membuat jantungmu bergetar bukan kemungkinan untuk lebih, melainkan fakta bahwa ia menahan diri. Karena cinta yang dewasa bukan tentang seberapa jauh berani melangkah, melainkan seberapa dalam sanggup berhenti. Malam itu tidak meninggalkan jejak. Tidak ada janji. Tidak ada kata. Hanya dua napas yang saling tahu bahwa ada sesuatu yang bisa saja menjadi badai, namun memilih men...

Yang Tak Bisa Dimiliki

Namanya tidak pernah ia sebut keras-keras. Karena yang indah, jika dipanggil terlalu sering, akan kehilangan gaungnya. Ia berjalan dengan tenang seperti seseorang yang sudah pernah kehilangan arah dan memilih untuk tidak tersesat lagi. Matanya bukan sekadar magnet. Ia adalah jurang yang sadar berapa dalam ia mengizinkan orang jatuh. Banyak yang mengira ia bermain. Padahal ia hanya menimbang. Banyak yang mengira ia ringan. Padahal ia hanya tidak mau terlihat berat. Ia tahu bagaimana rasanya menaruh seluruh langit di satu telapak, lalu menyaksikan langit itu runtuh tanpa suara. Sejak itu, ia belajar memelihara api di ruang yang tak bisa disentuh sembarang tangan. Ia tidak cemburu. Ia tidak berebut. Ia tidak menuntut dipilih. Karena perempuan yang tahu nilainya tidak berdiri di antrean. Jika ada yang datang dengan cerita tentang perempuan lain, ia hanya menggeser jarak setipis angin. Tidak marah. Tidak kecewa. Hanya menutup pintu yang bahkan belum dibuka. Ia bukan lembut seperti kapas. Ia...

Lelaki yang Berdiri di Antara

Ia tidak pernah benar-benar masuk. Tapi juga tidak sepenuhnya pergi. Ia berjalan dengan senyum sosial, seperti seseorang yang tahu cara membuat ruangan merasa ringan, tanpa pernah membiarkan siapa pun menimbang isi dadanya. Ada perempuan yang bersuara lembut di sekitarnya. Ada mata yang lebih tajam menatap dari kejauhan. Dan ia… tidak memilih, hanya menggeser arah angin. Ia bercerita tentang kamar yang bukan miliknya untuk dibagikan. Ia menyebut nama lain sambil menunggu getar kecil di wajah yang ia tatap. Lelaki seperti ini tidak berbohong. Tapi juga tidak sepenuhnya jujur. Ia bermain di wilayah aman: cukup dekat untuk terasa, cukup jauh untuk tidak terikat. Ia ingin diinginkan, namun tak ingin dituntut. Ingin dianggap serius, namun belum selesai dengan kebebasannya. Ia berdiri di antara dua perempuan, yang satu lembut seperti doa subuh, yang satu tenang seperti malam tanpa bulan. Dan ia belum sadar bahwa malam yang tenang tidak pernah menunggu. Jika ia terus menimbang, ia akan kehila...

Perempuan yang Tidak Tenggelam

Ia berdiri di tepi arus, bukan karena takut air, melainkan karena ia hafal bagaimana arus bekerja. Orang-orang menyebutnya dingin, padahal ia hanya tahu bahwa hangat yang berlebihan bisa berubah menjadi banjir. Tatapannya bukan undangan, bukan pula penolakan. Ia seperti pintu yang terbuka hanya bagi yang tahu cara mengetuk. Di sekelilingnya, suara-suara lembut berputar, tawa, kabar, kemungkinan. Ia mendengarkan tanpa menjadikan apa pun pusat semesta. Ada yang datang membawa cerita, ada yang membawa bayang perempuan lain, ada yang mencoba menimbang reaksinya. Ia hanya tersenyum tipis, karena badai tak pernah tumbuh di tanah yang tidak ia sirami. Ia pernah hampir hanyut. Itu cukup. Sejak itu, ia belajar memetakan laut sebelum menyentuh airnya. Bukan karena ia tak ingin dicintai, melainkan karena ia tahu cinta yang tidak terukur sering menyamar sebagai ombak. Ia bukan perempuan tanpa rasa. Ia hanya menyaringnya hingga yang tersisa adalah tenang. Jika suatu hari ada yang benar-benar ingin ...

Kita Adalah Dua Arah Angin

Kita tidak pernah berjanji. Kita hanya berjalan dalam garis yang kadang sejajar. Kau adalah angin yang ingin berdiri di samping badai. Aku adalah badai yang belajar memilih kapan harus tenang. Kita tidak saling memiliki, tapi kita saling menguatkan arah. Ada jarak yang tidak pernah kita sebut, bukan karena takut, tapi karena kita cukup dewasa untuk tahu, tidak semua percikan harus menjadi api. Kau menghormatiku seperti tanah menghormati hujan: tidak menggenggam, hanya menerima saat ia turun. Dan aku? Aku berdiri tanpa meminta dipahami. Karena siapa yang cukup tinggi berdiri, akan selalu terlihat, tanpa perlu memanggil.