Tuhan

 Tuhan,


ada terlalu banyak kisah

yang berdesakan di dadaku.


Seperti kereta terakhir

yang dipenuhi penumpang

yang semuanya ingin pulang bersamaan.


Aku ingin menyebutkan satu per satu pada-Mu,

tentang lelah yang tak sempat kuakui,

tentang sunyi yang diam-diam tumbuh

di sela napasku sendiri.


Namun setiap kali bibirku hendak membuka doa,

kata-kata mendadak menjadi asing.


Mereka berdiri di tenggorokanku

seperti tamu yang lupa namanya sendiri.


Aku mencoba berbicara, Tuhan.

Sungguh.


Tapi suaraku justru tenggelam

di dalam dada

yang terlalu penuh oleh hal-hal

yang tak pernah kupelajari cara menjelaskannya.


Maka aku hanya diam.


Dan dalam diam itu

yang akhirnya menemukan jalan pulang

bukanlah kata-kata.


melainkan

sepasang mata

yang perlahan runtuh.


Sebab ketika mulutku tak mampu berkata apa-apa,

akhirnya

mata yang berbicara

atas nama seluruh isi hatiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TRI PANTANGAN TAMANSISWA”

SESORAH TATA KRAMA

Tugas Bahasa Indonesia Contoh Proposal Senam Lansia