Ketika Luka Belajar Bertahan
Di antara detak yang tak lagi ingin didengar,
ia merunduk ke dalam sunyi yang lebih tua dari namanya
membiarkan dirinya larut
pada sesuatu yang tak pernah benar-benar ia mengerti.
Langit tak menjawab,
atau mungkin jawabannya terlalu sunyi
hingga hanya luka yang mampu menerjemahkan.
Ada sesuatu yang pecah jauh di dalam dirinya,
bukan sekali, melainkan berulang
seperti kaca yang tak pernah benar-benar selesai retak,
seperti malam yang menolak habis meski fajar berkali-kali lahir.
Ia tidak lagi membedakan mana takut, mana lelah,
semuanya telah berbaur
menjadi kabut pekat yang ia hirup setiap hari
tanpa pernah sempat ia tolak.
Dan di sela napas yang nyaris putus,
terdengar sesuatu yang bukan kata-kata
semacam sisa keyakinan
yang bertahan seperti nyala paling kecil
di ujung angin yang kejam.
Ia tidak meminta terang,
sebab ia tahu cahaya pun bisa menyilaukan luka.
Ia hanya ingin tidak sepenuhnya hilang
di dalam dirinya sendiri.
Ada rasa yang jatuh perlahan,
bukan lagi tangis, bukan pula doa,
melainkan sesuatu yang lebih purba
seperti tubuh yang mengingat cara bertahan
meski jiwa telah lama ingin pulang.
Dan entah dari mana,
di antara gelap yang menelan arah,
ia masih ditemukan oleh sesuatu
yang tak ia lihat, tak ia pahami
namun diam-diam menahannya tetap ada.
Maka di situ,
dengan tubuh yang hampir tak mengakuinya lagi,
ia berterima kasih tanpa menyebut apa-apa
sebab yang ia rasakan terlalu dalam
untuk dipenjara oleh bahasa.
Dan malam pun menyimpannya,
seperti rahasia yang tidak ingin sembuh,
seperti luka yang justru menjadi bukti
bahwa ia belum sepenuhnya lenyap.
Komentar
Posting Komentar