Di Antara Bercanda

Kita mulai dari hal remeh,

kata-kata yang dilempar tanpa niat,

tawa yang seolah ringan,

seolah tidak menyimpan apa-apa.


Kamu bilang tidak ada yang membuatmu semangat,

aku menjawab sekenanya,

seperti dua orang yang sama-sama pura-pura

tidak sedang saling memperhatikan lebih dari seharusnya.


Di sela candaan,

ada kalimat yang hampir jujur,

lalu cepat-cepat dibungkus lagi

dengan tawa 

seolah itu cukup untuk meniadakan maknanya.


Kamu mendorong sedikit,

aku menahan sedikit.

Kita saling mendekat

tanpa pernah benar-benar mengaku sedang mendekat.


Ada hal-hal yang kita bilang main-main,

tentang dekat, tentang sentuhan, tentang rasa,

padahal kita tahu,

tidak semuanya benar-benar bercanda.


Namun tidak ada yang berani berhenti di satu titik

dan berkata,

“ini sebenarnya apa?”


Jadi kita lanjut saja,

menyembunyikan kemungkinan

di balik kalimat setengah serius,

dan menjaga jarak

di dalam keakraban yang terasa terlalu mudah.


Dan mungkin memang begitu seharusnya,

kita,

yang saling menemukan nyaman

tanpa pernah berniat menetap.


Karena pada akhirnya,

yang tersisa bukan jawaban,

melainkan jeda-jeda kecil

yang diam-diam

terasa lebih dari sekadar teman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TRI PANTANGAN TAMANSISWA”

SESORAH TATA KRAMA

Tugas Bahasa Indonesia Contoh Proposal Senam Lansia