Sore

Sore turun perlahan di bahu kota.

Langit menggantung rendah, warnanya lelah,

seperti hari yang terlalu lama dipakai berpikir.


Di usia ini, hidup tidak lagi terasa seperti jalan lurus.

Ia lebih mirip simpang yang penuh suara,

arah yang saling memanggil,

dan langkah yang sering ragu harus menuju ke mana.


Ada hal-hal yang terus ikut berjalan di dalam kepala:

tanggung jawab yang datang tanpa pernah benar-benar pamit,

masa depan yang kadang terasa seperti kabut tipis di ujung jalan,

dan waktu yang diam-diam bergerak

lebih cepat dari yang sanggup kita kejar.


Sesekali pikiran pulang ke rumah.

Ke wajah orang tua yang dulu terasa kokoh seperti pohon tua,

yang kini perlahan belajar menua bersama waktu.

Ada keinginan sederhana untuk membuat mereka bangga,

namun dunia sering terasa lebih rumit dari harapan itu.


Ada pula cerita yang dulu dipercaya sebagai tempat kembali.

Namun beberapa orang memang hanya singgah sebentar dalam hidup,

meninggalkan ruang sunyi

yang kadang tiba-tiba terasa lagi saat sore seperti ini.


Sementara dunia terus berjalan tanpa jeda.

Orang-orang terlihat tegar di luar,

seolah semua sudah tahu caranya menjadi dewasa.


Padahal tidak ada yang benar-benar siap.


Di sebuah sudut yang sepi,

seseorang duduk sebentar

dan tanpa sadar, setetes air mata jatuh pelan.


Bukan karena ia lemah.

Hanya saja, hari ini terasa terlalu penuh untuk dipikul sendirian.


Dan di antara napas yang berusaha kembali tenang itu,

terucap pelan sesuatu yang sederhana,

hampir seperti doa yang tidak direncanakan:


“Ya Allah… berat sekali rasanya belajar menjadi dewasa.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TRI PANTANGAN TAMANSISWA”

SESORAH TATA KRAMA

Tugas Bahasa Indonesia Contoh Proposal Senam Lansia