Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Chapter 1 Finish

Ada tenang yang tak lagi kucari di luar, ia tumbuh diam di dalam dada, seperti cahaya kecil yang tak padam, meski angin pernah berkali datang. Aku duduk bersama diriku sendiri, tanpa gelisah, tanpa ingin lari, dan untuk pertama kalinya, hening terasa seperti rumah. Bahagia kini tak berisik, ia hadir sederhana dalam napas yang utuh, dalam langkah yang tak dipaksa. Tak ada lagi yang perlu kubuktikan, tak ada yang harus kuraih tergesa, sebab di ruang yang sunyi ini, aku telah cukup… dan utuh adanya. Dan dari dalam, perlahan mengalir rasa itu damai yang jujur, bahagia yang tinggal, bukan sekadar singgah.

Harapan Itu Nyata

Di ambang pagi yang pelan membuka mata, aku berdiri tanpa beban yang dulu tak terlihat, seperti daun yang akhirnya tahu arah jatuhnya, tanpa ragu, tanpa takut pada tanah. Ada hari-hari panjang yang pernah kupeluk, sunyi yang berisik, lelah yang tak bernama, namun waktu seperti sungai sabar mengikis segala yang terlalu lama tinggal. Kini angin terasa berbeda, lebih ringan, lebih jujur menyapa kulit, seakan semesta berbisik pelan, “sudah cukup, kau boleh melangkah.” Tak ada amarah yang kubawa, hanya jejak-jejak kecil yang perlahan pudar, dan langkah baru yang tak lagi menoleh, pada pintu yang kini kututup dengan tenang. Aku memilih jalan yang belum kupahami, namun terasa lapang di dalam dada, seperti langit setelah hujan panjang, jernih… dan akhirnya, damai.

Akhirnya Ia Datang

Ia datang tanpa gemuruh, tanpa janji yang berisik di awal waktu, hanya langkah yang tetap, dan hati yang tak berubah arah. Di sisinya, aku tak perlu bertanya berulang, sebab hadirnya selalu utuh tenang, dalam, seperti laut yang tak perlu membuktikan luasnya. Ia memahami tanpa banyak kata, mendengar bahkan saat aku diam, dan menggenggam bukan untuk menahan, melainkan menemani dengan pasti. Ada hangat yang sederhana, stabil seperti pagi yang selalu kembali, dan dalam diamnya, aku merasa dijaga tanpa harus diminta. Ketika kami berdiri berdampingan, dalam hening yang mengarah ke langit, ia melangkah sedikit di depan, membimbing doa dengan lembut dan yakin. Dan di sana aku mengerti cinta tak selalu tentang riuh dan api, kadang ia adalah teduh yang menetap, yang membuat hati pulang… tanpa ragu.

Terimakasih Tuhan

 Di tiap napas yang datang tanpa kuminta, ada kasih yang tak pernah berhenti mengalir, lembut… bahkan saat aku tak menyadarinya. Dalam langkah yang dulu terasa berat, Engkau sisipkan arah tanpa banyak suara, hingga aku tiba di tempat yang lebih lapang, dengan hati yang perlahan mengerti. Apa yang datang, tak selalu mudah, namun selalu cukup untuk membuatku tumbuh, dan di balik yang sempat terasa hilang, Engkau gantikan dengan yang lebih menenangkan. Kini aku tak lagi menghitung kekurangan, sebab di sekelilingku, begitu banyak hal kecil yang Kau cukupkan tanpa pernah ku minta satu per satu. Maka dalam diam yang penuh ini, aku menunduk dengan hati yang utuh, mengucap syukur yang tak selesai-selesai, atas semua yang Kau beri yang terlihat… dan yang diam-diam menyelamatkanku.