Akhirnya Ia Datang
Ia datang tanpa gemuruh,
tanpa janji yang berisik di awal waktu,
hanya langkah yang tetap,
dan hati yang tak berubah arah.
Di sisinya, aku tak perlu bertanya berulang,
sebab hadirnya selalu utuh
tenang, dalam,
seperti laut yang tak perlu membuktikan luasnya.
Ia memahami tanpa banyak kata,
mendengar bahkan saat aku diam,
dan menggenggam bukan untuk menahan,
melainkan menemani dengan pasti.
Ada hangat yang sederhana,
stabil seperti pagi yang selalu kembali,
dan dalam diamnya,
aku merasa dijaga tanpa harus diminta.
Ketika kami berdiri berdampingan,
dalam hening yang mengarah ke langit,
ia melangkah sedikit di depan,
membimbing doa dengan lembut dan yakin.
Dan di sana aku mengerti
cinta tak selalu tentang riuh dan api,
kadang ia adalah teduh yang menetap,
yang membuat hati pulang… tanpa ragu.
Komentar
Posting Komentar