Harapan Itu Nyata
Di ambang pagi yang pelan membuka mata,
aku berdiri tanpa beban yang dulu tak terlihat,
seperti daun yang akhirnya tahu arah jatuhnya,
tanpa ragu, tanpa takut pada tanah.
Ada hari-hari panjang yang pernah kupeluk,
sunyi yang berisik, lelah yang tak bernama,
namun waktu seperti sungai sabar
mengikis segala yang terlalu lama tinggal.
Kini angin terasa berbeda,
lebih ringan, lebih jujur menyapa kulit,
seakan semesta berbisik pelan,
“sudah cukup, kau boleh melangkah.”
Tak ada amarah yang kubawa,
hanya jejak-jejak kecil yang perlahan pudar,
dan langkah baru yang tak lagi menoleh,
pada pintu yang kini kututup dengan tenang.
Aku memilih jalan yang belum kupahami,
namun terasa lapang di dalam dada,
seperti langit setelah hujan panjang,
jernih… dan akhirnya, damai.
Komentar
Posting Komentar