Bukan Hari Ini

Sudah lama aku berdiri

di ambang yang sama,

kaki ingin melangkah,

namun udara seperti menahanku kembali.


Bukan karena tak berani.

Bukan pula karena tak tahu arah.

Hanya saja setiap kali kusiapkan diri

untuk beranjak,

ada sesuatu yang tak terlihat

menarik ujung bajuku pelan.


Aku lelah berada di ruang ini.

Dindingnya menghafal napasku,

lantainya tahu berat langkahku.

Namun pintu itu

seolah hanya setengah terbuka,

cukup untuk memberi harap,

tidak cukup untuk dilewati.


Mungkin Tuhan sedang menunda.

Mungkin aku yang belum selesai

dengan pelajaran yang sama.


Ada hari-hari ketika aku hampir pergi,

mengemas keyakinan,

melipat kecewa,

meninggalkan jejak tanpa menoleh.


Namun selalu saja

waktu menggenggam pergelangan tanganku

dan berbisik:

belum.


Maka aku bertahan.

Bukan karena betah,

melainkan karena percaya

tak ada takdir yang salah alamat.


Jika memang harus tinggal,

kuatkan dadaku agar tak membatu.

Jika memang harus menunggu,

jangan biarkan harapku habis

sebelum pintu itu benar-benar terbuka.


Sebab yang paling melelahkan

bukanlah menetap,


melainkan mengetahui

bahwa hatimu sudah jauh di depan,

sementara tubuhmu

masih dipaksa tinggal

di tempat yang sama


Aku sudah siap melangkah.

Hanya saja,

mungkin jawabannya

bukan hari ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TRI PANTANGAN TAMANSISWA”

SESORAH TATA KRAMA

Naskah Film Dokumenter