Jeda
Kita tidak pernah membicarakan
tentang selamanya.
Hanya tentang hari ini,
dan esok yang terasa cukup.
Namun akhir-akhir ini
namaku tak lagi singgah utuh
di suaramu.
Aku mengenali perubahan
bukan dari kata,
melainkan dari cara kau memandang kosong
lebih lama dari biasanya.
Ada sesuatu
yang kau simpan diam diam.
Aku tidak mencarinya.
Tidak juga menuduh.
Hanya berdiri
di tempat yang sama
dan merasakan jarak
yang tak terlihat.
Kita masih berjalan berdampingan.
Masih tertawa pada hal-hal kecil.
Namun di sela-sela itu
ada ruang tipis
yang tak lagi bisa kuisi.
Jika memang hatimu
sedang belajar menyebut nama lain
dalam diamnya,
aku tak akan memaksa
untuk menjadi satu-satunya gema.
Aku tidak akan bertanya.
Tidak pula memohon.
Sebab mencintai
tidak pernah tentang bertahan
di tempat yang mulai ragu.
Jika suatu hari
langkahmu tak lagi searah denganku,
aku akan mengangguk pelan,
seolah memang sejak awal
kita hanya persinggahan.
Aku tak ingin menjadi jeda
di antara dua kemungkinan.
Aku siap melangkah mundur
sebelum kau sempat menyuruh.
Karena yang paling menyakitkan
bukan ditinggalkan,
melainkan bertahan
di tempat
yang tak lagi sepenuhnya
memilih kita
Komentar
Posting Komentar