Embun

Malam turun seperti selimut tipis

yang ditenun dari napas musim dingin.

Kaca berembun,

menyimpan rahasia yang tak ingin jatuh menjadi kata.


Di antara bayang dan cahaya yang samar,

ia mendekat,

pelan, seolah takut mengusik

hening yang sedang bermekaran.


Tangannya melingkar,

bukan sekadar pada pinggang,

melainkan pada jarak

yang sejak lama ingin dipendekkan.

Tarikannya lembut,

seperti arus kecil

yang tahu ke mana harus bermuara.


Ia berlabuh di dadanya,

di antara detak yang hangat

dan udara yang menggigil.

Tak ada janji yang diucapkan,

namun pelukan itu

seperti doa yang tak bersuara,

utuh, tenang, abadi dalam sesaat.


Perempuan itu diam,

Ia membiarkan dirinya tenggelam

dalam lingkar yang aman,

seolah dunia di luar kaca

tak lebih dari kabut

yang tak perlu dimengerti.


Embun perlahan menetes,

membuat garis-garis tipis

yang menyerupai takdir

yang tak ingin tergesa.


Di dalam pelukan itu

dingin berubah arti,

bukan lagi tentang suhu,

melainkan alasan

untuk saling mendekat

tanpa perlu alasan lain.


Dan malam,

yang sejak tadi menyaksikan,

tersenyum dalam sunyi,

karena ada dua hati

yang tak banyak bicara,

namun saling menemukan

di antara embun

dan hangat yang sederhana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TRI PANTANGAN TAMANSISWA”

SESORAH TATA KRAMA

Naskah Film Dokumenter