Lelaki yang Berdiri di Antara

Ia tidak pernah benar-benar masuk.

Tapi juga tidak sepenuhnya pergi.


Ia berjalan dengan senyum sosial,

seperti seseorang yang tahu

cara membuat ruangan merasa ringan,

tanpa pernah membiarkan siapa pun

menimbang isi dadanya.


Ada perempuan yang bersuara lembut di sekitarnya.

Ada mata yang lebih tajam menatap dari kejauhan.

Dan ia…

tidak memilih,

hanya menggeser arah angin.


Ia bercerita tentang kamar

yang bukan miliknya untuk dibagikan.

Ia menyebut nama lain

sambil menunggu getar kecil

di wajah yang ia tatap.


Lelaki seperti ini

tidak berbohong.

Tapi juga tidak sepenuhnya jujur.


Ia bermain di wilayah aman:

cukup dekat untuk terasa,

cukup jauh untuk tidak terikat.


Ia ingin diinginkan,

namun tak ingin dituntut.

Ingin dianggap serius,

namun belum selesai dengan kebebasannya.


Ia berdiri di antara dua perempuan,

yang satu lembut seperti doa subuh,

yang satu tenang seperti malam tanpa bulan.


Dan ia belum sadar

bahwa malam yang tenang

tidak pernah menunggu.


Jika ia terus menimbang,

ia akan kehilangan yang tidak bersuara.


Karena perempuan yang tak bereaksi

bukan berarti tak melihat.

Ia hanya sedang mencatat.


Dan lelaki yang berdiri terlalu lama di antara

akan menemukan dirinya sendirian

di titik yang tak lagi dianggap penting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TRI PANTANGAN TAMANSISWA”

SESORAH TATA KRAMA

Naskah Film Dokumenter