Musim yang Berbeda

Ia datang tanpa ragu,

seperti seseorang yang telah selesai

berunding dengan masa lalunya.

Di matanya, aku bukan sekadar hari ini,

melainkan alamat yang ingin ia tuju.


Sementara aku masih sibuk

menertawakan sore,

menganggap cinta hanya percakapan ringan

yang bisa ditinggalkan sebelum gelap benar-benar turun.


Ia berbicara tentang rumah

dengan suara yang tidak bergetar.

Tentang keseriusan

seolah itu adalah jalan lurus

yang tinggal dilalui bersama.


Aku mendengarnya

dengan hati yang belum utuh.

Di dadaku, cinta masih seperti burung,

senang terbang rendah,

tak ingin sangkar,

meski itu terbuat dari niat yang paling tulus.


Ia menggenggam tanganku

bukan untuk bermain-main.

Ada masa depan di sela jemarinya,

ada kesungguhan yang tidak tahu caranya bercanda.


Dan di situlah aku merasa kecil,

bukan karena ia terlalu berat,

tetapi karena aku masih ringan.

Terlalu ringan untuk memikul

sebuah kata bernama selamanya.


Kami berdiri di ambang yang sama,

namun musim kami berbeda.

Ia telah menjadi tanah yang siap ditanami,

sedang aku masih hujan

yang jatuh tanpa arah.


Tidak ada yang salah dari dirinya.

Tidak ada yang kurang dari caranya mencinta.

Hanya waktu yang belum selesai

mendidikku menjadi tenang.


Maka aku melepaskannya

dengan tawa yang kupaksakan ringan,

padahal di dalam dada

ada sesuatu yang pelan-pelan belajar mengerti,


bahwa lelaki yang tepat

kadang memang hadir

bukan untuk dimiliki,

melainkan untuk menyadarkan

bahwa aku belum selesai

menjadi seseorang

yang mampu tinggal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TRI PANTANGAN TAMANSISWA”

SESORAH TATA KRAMA

Naskah Film Dokumenter