Perempuan yang Tidak Tenggelam
Ia berdiri di tepi arus,
bukan karena takut air,
melainkan karena ia hafal
bagaimana arus bekerja.
Orang-orang menyebutnya dingin,
padahal ia hanya tahu
bahwa hangat yang berlebihan
bisa berubah menjadi banjir.
Tatapannya bukan undangan,
bukan pula penolakan.
Ia seperti pintu yang terbuka
hanya bagi yang tahu cara mengetuk.
Di sekelilingnya,
suara-suara lembut berputar,
tawa, kabar, kemungkinan.
Ia mendengarkan
tanpa menjadikan apa pun pusat semesta.
Ada yang datang membawa cerita,
ada yang membawa bayang perempuan lain,
ada yang mencoba menimbang reaksinya.
Ia hanya tersenyum tipis,
karena badai tak pernah tumbuh
di tanah yang tidak ia sirami.
Ia pernah hampir hanyut.
Itu cukup.
Sejak itu,
ia belajar memetakan laut
sebelum menyentuh airnya.
Bukan karena ia tak ingin dicintai,
melainkan karena ia tahu
cinta yang tidak terukur
sering menyamar sebagai ombak.
Ia bukan perempuan tanpa rasa.
Ia hanya menyaringnya
hingga yang tersisa
adalah tenang.
Jika suatu hari
ada yang benar-benar ingin tinggal,
ia tak perlu mengejar.
Ia akan membuka sedikit ruang,
cukup untuk dua napas,
cukup untuk dua arah yang sejajar.
Sampai saat itu,
ia tetap berdiri di tepi,
mengamati,
memahami,
dan tidak tenggelam.
Komentar
Posting Komentar