Yang Tak Bisa Dimiliki

Namanya tidak pernah ia sebut keras-keras.

Karena yang indah,

jika dipanggil terlalu sering,

akan kehilangan gaungnya.


Ia berjalan dengan tenang

seperti seseorang yang sudah pernah

kehilangan arah

dan memilih untuk tidak tersesat lagi.


Matanya bukan sekadar magnet.

Ia adalah jurang yang sadar

berapa dalam ia mengizinkan orang jatuh.


Banyak yang mengira ia bermain.

Padahal ia hanya menimbang.

Banyak yang mengira ia ringan.

Padahal ia hanya tidak mau terlihat berat.


Ia tahu bagaimana rasanya

menaruh seluruh langit di satu telapak,

lalu menyaksikan langit itu runtuh

tanpa suara.


Sejak itu,

ia belajar memelihara api

di ruang yang tak bisa disentuh sembarang tangan.


Ia tidak cemburu.

Ia tidak berebut.

Ia tidak menuntut dipilih.


Karena perempuan yang tahu nilainya

tidak berdiri di antrean.


Jika ada yang datang dengan cerita tentang perempuan lain,

ia hanya menggeser jarak setipis angin.

Tidak marah.

Tidak kecewa.

Hanya menutup pintu yang bahkan belum dibuka.


Ia bukan lembut seperti kapas.

Ia lembut seperti malam,

tenang,

gelap,

dan penuh rahasia yang tak semua orang kuat memandangnya.


Dan jika suatu hari

ada lelaki yang mencoba mengujinya,

ia tidak perlu menaikkan suara.

Cukup diamnya saja

sudah cukup membuat orang merasa kehilangan.


Karena yang paling menakutkan

bukan perempuan yang marah.

Tapi perempuan yang sudah tidak terguncang.


Ia tidak mencari untuk dimiliki.

Ia hanya memastikan

siapa pun yang tinggal

tidak datang dengan setengah nyali.


Dan bila tak ada yang cukup berani

ia tetap utuh.

Tetap misteri yang memilih dirinya sendiri

sebelum memilih siapa pun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TRI PANTANGAN TAMANSISWA”

SESORAH TATA KRAMA

Naskah Film Dokumenter