Di Antara Doa yang Kusembunyikan di Laci Meja
Aku sudah menundukkan kepala
lebih rendah dari biasanya,
bukan pada atasan,
bukan pada angka-angka yang menuntut selesai,
melainkan pada Mu.
Di sela kesibukan yang tak pernah benar-benar selesai,
di antara tumpukan berkas dan layar yang menyala,
aku menyelipkan doa
seperti kertas kecil yang kusimpan
di laci paling dalam.
Aku lelah, Tuhan.
Namun lelahku kupelajari agar tidak berisik.
Muakku kupeluk agar tak berubah
menjadi amarah.
Setiap kali langkahku kembali
ke kursi yang sama,
aku berkata dalam hati:
mungkin ini belum waktunya.
Mungkin Engkau sedang menata jalan
yang belum sanggup kulihat.
Sudah berkali-kali aku mengetuk pintu
yang tak kunjung terbuka.
Sudah berkali-kali namaku
menghilang dalam sunyi balasan.
Dengan segala kerendahan,
aku tidak meminta lebih.
Hanya jalan yang lapang.
Hanya tempat yang tidak menggerus
perlahan-lahan isi dadaku.
Jika memang harus menunggu,
kuatkan aku untuk tetap utuh.
Jika memang harus pergi,
bukakan pintu tanpa membuatku
kehilangan harga diri.
Aku ingin beranjak bukan karena benci,
melainkan karena ingin bertumbuh
tanpa merasa kecil setiap hari.
Dan malam-malam,
aku kembali berdoa,
pelan,
tanpa banyak kata,
hanya keyakinan yang kupelihara
agar tidak padam.
Sebab aku percaya,
tidak ada air mata yang jatuh sia-sia
di hadapan Mu.
Dan suatu hari nanti,
aku ingin menoleh ke ruangan ini
bukan dengan dendam,
melainkan dengan syukur,
karena Engkau akhirnya menjawab
dengan cara yang paling lembut.
Komentar
Posting Komentar