Kupu-Kupu yang Akhirnya Terbang
Ada musim yang panjang sekali.
Musim ketika seekor kupu-kupu
lebih akrab dengan gelap
daripada cahaya.
Ia tinggal di dalam ruang sempit
yang tak pernah dipilihnya sendiri.
Mendengar dunia dari kejauhan,
seperti mendengar riuh hujan
dari balik jendela yang terkunci.
Berkali-kali ia bertanya,
apakah langit memang ada untuknya,
atau hanya untuk mereka
yang sejak awal dilahirkan dengan sayap sempurna.
Hari-hari berlalu.
Angin datang dan pergi.
Daun-daun gugur tanpa pamit.
Bahkan beberapa bunga
yang dulu dijanjikan mekar,
lebih dulu kehilangan warnanya.
Namun waktu,
seperti doa yang diam-diam bekerja,
tak pernah benar-benar meninggalkannya.
Sampai pada suatu pagi,
ia mendapati dirinya berbeda.
Bukan karena dunia berubah,
bukan karena jalan menjadi lebih mudah,
melainkan karena ia telah selesai
berdamai dengan luka-lukanya.
Maka perlahan,
ia membuka sayap yang selama ini disembunyikan.
Tak ada tepuk tangan.
Tak ada sorak-sorai.
Hanya langit yang luas,
dan keberanian kecil
yang tumbuh di dalam dadanya.
Lalu ia terbang.
Meninggalkan ranting-ranting lama,
meninggalkan ketakutan yang pernah dianggap rumah.
Dan untuk pertama kalinya,
ia mengerti
bahwa kepompong bukanlah penjara.
Ia hanyalah tempat singgah,
agar seekor kupu-kupu belajar
bahwa dirinya memang ditakdirkan
untuk terbang.
Komentar
Posting Komentar