Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Ketika Luka Belajar Bertahan

Di antara detak yang tak lagi ingin didengar, ia merunduk ke dalam sunyi yang lebih tua dari namanya membiarkan dirinya larut pada sesuatu yang tak pernah benar-benar ia mengerti. Langit tak menjawab, atau mungkin jawabannya terlalu sunyi hingga hanya luka yang mampu menerjemahkan. Ada sesuatu yang pecah jauh di dalam dirinya, bukan sekali, melainkan berulang seperti kaca yang tak pernah benar-benar selesai retak, seperti malam yang menolak habis meski fajar berkali-kali lahir. Ia tidak lagi membedakan mana takut, mana lelah, semuanya telah berbaur menjadi kabut pekat yang ia hirup setiap hari tanpa pernah sempat ia tolak. Dan di sela napas yang nyaris putus, terdengar sesuatu yang bukan kata-kata semacam sisa keyakinan yang bertahan seperti nyala paling kecil di ujung angin yang kejam. Ia tidak meminta terang, sebab ia tahu cahaya pun bisa menyilaukan luka. Ia hanya ingin tidak sepenuhnya hilang di dalam dirinya sendiri. Ada rasa yang jatuh perlahan, bukan lagi tangis, bukan pula doa,...

Belajar Mencintai Badai

Aku pernah melihat seseorang yang tidak pernah benar-benar tenang bukan karena hidupnya berantakan, tapi karena semesta seperti gemar mengujinya tanpa jeda. Dari luar, ia tampak biasa saja, tertawa di waktu yang tepat, menjawab seperlunya, seolah hidupnya rapi dan terkendali. Padahal aku tahu, di dalam dirinya angin tak pernah benar-benar berhenti berputar. Ia seperti langit yang terus berubah kadang terang dengan warna yang indah, kadang gelap tanpa aba-aba, namun anehnya, tak pernah benar-benar runtuh. Aku pernah bertanya dalam diam, bagaimana caranya ia tetap berdiri di tengah hidup yang tak pernah benar-benar bersahabat? Lalu aku melihatnya lebih dekat bukan saat ia kuat, tapi saat ia lelah. Di matanya ada sesuatu yang tak semua orang mampu miliki: keteguhan yang tidak berisik, dan luka yang tidak meminta dimengerti. Ia tidak menolak badai, tidak juga berusaha mengalahkannya. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan angin menerpa, seolah berkata pada hidup: “kalau memang ini jalanku, y...

Rindu Yang Diam Diam Menetap

Ada yang sengaja dijauhkan, bukan karena tak mungkin, melainkan karena terlalu mungkin untuk menjadi sesuatu yang tak terkendali. Tak pernah ada yang benar-benar dimulai, namun entah bagaimana, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat dimiliki. Beberapa hal memilih tetap samar, tinggal sebagai “hampir” yang tak pernah diberi kesempatan menjadi nyata. Dan di antara semua yang tak terjadi itu, ada satu yang paling sulit pergi, rindu yang diam-diam menetap, mendung, dan tak pernah tahu kapan harus berhenti.

Semesta Sedang Bercanda

Semesta memang suka bercanda, mempertemukan kembali di waktu yang jelas-jelas tidak tepat. Dulu biasa saja, bahkan nyaris tak layak diingat, hanya bagian kecil dari masa yang lewat tanpa banyak arti. Tapi lihat sekarang hidup sudah berjalan ke arah masing-masing, cerita sudah ditutup rapi, bahkan status pun sudah tak bisa diganggu gugat. Dan anehnya, justru di titik ini semesta merasa perlu mempertemukan lagi. Lebih rapi, lebih dewasa, dan entah kenapa… lebih menarik dari yang seharusnya. Lucu, ya yang dulu terasa biasa, sekarang justru datang dengan versi terbaiknya, di saat ia sudah bukan siapa-siapa. Aku hanya bisa diam, menertawakan kebetulan yang terlalu disengaja, sambil berpikir kenapa harus sekarang saat segalanya sudah tidak mungkin, dan sialnya… ia malah terlihat lebih memikat.

Yang Tidak Aku Pilih

Aku tidak memanggilmu, tidak juga menunggumu datang. Namamu bahkan tidak kusebut dalam doa-doa yang kupilih dengan sadar. Tapi entah kenapa, di sela sunyi yang tidak berniat apa-apa, kamu muncul seperti bayangan yang tidak pernah kuundang. Tidak keras, tidak juga dalam, hanya cukup untuk membuat jantungku mengingat sesuatu yang tidak pernah kuizinkan tumbuh. Ini bukan rindu. Bukan pula cinta. Hanya semacam gema dari tawa-tawa kecil yang terlalu ringan untuk dianggap, namun terlalu nyata untuk diabaikan. Aku tidak menginginkanmu, dan mungkin itu yang paling jujur. Namun tubuh ini, dengan caranya sendiri yang aneh, terus mengkhianati keputusan yang sudah kupastikan. Ada jarak, ada batas, ada versi diriku yang tetap berdiri tegak dan tidak bergerak mendekat. Tapi di dalam, sesuatu berdenyut, tanpa arah, tanpa tujuan, seperti pesan yang salah alamat namun tetap terkirim. Dan mungkin ini bukan tentangmu. Mungkin ini hanya tentang bagaimana sesuatu yang kecil bisa tinggal terlalu lama di rua...

Di Antara Bercanda

Kita mulai dari hal remeh, kata-kata yang dilempar tanpa niat, tawa yang seolah ringan, seolah tidak menyimpan apa-apa. Kamu bilang tidak ada yang membuatmu semangat, aku menjawab sekenanya, seperti dua orang yang sama-sama pura-pura tidak sedang saling memperhatikan lebih dari seharusnya. Di sela candaan, ada kalimat yang hampir jujur, lalu cepat-cepat dibungkus lagi dengan tawa  seolah itu cukup untuk meniadakan maknanya. Kamu mendorong sedikit, aku menahan sedikit. Kita saling mendekat tanpa pernah benar-benar mengaku sedang mendekat. Ada hal-hal yang kita bilang main-main, tentang dekat, tentang sentuhan, tentang rasa, padahal kita tahu, tidak semuanya benar-benar bercanda. Namun tidak ada yang berani berhenti di satu titik dan berkata, “ini sebenarnya apa?” Jadi kita lanjut saja, menyembunyikan kemungkinan di balik kalimat setengah serius, dan menjaga jarak di dalam keakraban yang terasa terlalu mudah. Dan mungkin memang begitu seharusnya, kita, yang saling menemukan nyaman ta...

Keinginan

Ada keinginan yang tumbuh diam-diam di sudut paling sunyi dari pikiranku. Bukan teriakan. Bukan pula ratapan. Hanya sebuah hasrat yang tenang untuk menghilang dari peta dunia. Seperti kabut yang memutuskan tak lagi menjadi bagian dari pagi. Aku membayangkan diriku larut perlahan ke dalam ruang yang tak bernama, tempat di mana tidak ada yang memanggil, tidak ada yang menuntut, tidak ada yang perlu dijelaskan. Sebab hidup kadang terasa seperti lorong panjang tanpa jendela, dan langkah kaki sendiri menjadi gema yang melelahkan. Di lorong itu aku sering bertanya pada bayanganku sendiri: bagaimana rasanya jika suatu hari namaku berhenti bergema di dunia? Jika keberadaanku perlahan dilipat oleh waktu seperti surat lama yang tak pernah lagi dibaca? Mungkin tidak akan ada yang berubah. Langit tetap luas. Angin tetap berjalan. Dan bumi akan terus berputar tanpa menyadari satu jiwa telah memilih menjadi sunyi yang tak lagi ditemukan oleh siapa pun.

Kepalaku Seperti Langit

Kepalaku seperti langit yang dipenuhi burung-burung gelisah. Mereka berputar tanpa arah, menabrak satu sama lain, menciptakan riuh yang tak terlihat oleh siapa pun. Di luar semuanya tampak biasa saja. Orang-orang berjalan, hari tetap bergerak, dunia tidak berhenti. Namun di dalam diriku ada sesuatu yang terus berisik. Seperti ombak yang tak pernah selesai menghantam karang di ruang yang sempit bernama kepala. Aku ingin diam. Benar-benar diam. Tapi pikiranku seperti angin musim timur, keras, panjang, dan tak pernah tahu kapan harus pulang. Maka aku hanya menunduk di tengah keramaian dunia dengan satu harapan kecil: semoga suatu saat kepalaku kembali menjadi langit yang tenang, dan semua burung gelisah itu akhirnya menemukan arah pulang.

Tuhan

 Tuhan, ada terlalu banyak kisah yang berdesakan di dadaku. Seperti kereta terakhir yang dipenuhi penumpang yang semuanya ingin pulang bersamaan. Aku ingin menyebutkan satu per satu pada-Mu, tentang lelah yang tak sempat kuakui, tentang sunyi yang diam-diam tumbuh di sela napasku sendiri. Namun setiap kali bibirku hendak membuka doa, kata-kata mendadak menjadi asing. Mereka berdiri di tenggorokanku seperti tamu yang lupa namanya sendiri. Aku mencoba berbicara, Tuhan. Sungguh. Tapi suaraku justru tenggelam di dalam dada yang terlalu penuh oleh hal-hal yang tak pernah kupelajari cara menjelaskannya. Maka aku hanya diam. Dan dalam diam itu yang akhirnya menemukan jalan pulang bukanlah kata-kata. melainkan sepasang mata yang perlahan runtuh. Sebab ketika mulutku tak mampu berkata apa-apa, akhirnya mata yang berbicara atas nama seluruh isi hatiku.

Sore

Sore turun perlahan di bahu kota. Langit menggantung rendah, warnanya lelah, seperti hari yang terlalu lama dipakai berpikir. Di usia ini, hidup tidak lagi terasa seperti jalan lurus. Ia lebih mirip simpang yang penuh suara, arah yang saling memanggil, dan langkah yang sering ragu harus menuju ke mana. Ada hal-hal yang terus ikut berjalan di dalam kepala: tanggung jawab yang datang tanpa pernah benar-benar pamit, masa depan yang kadang terasa seperti kabut tipis di ujung jalan, dan waktu yang diam-diam bergerak lebih cepat dari yang sanggup kita kejar. Sesekali pikiran pulang ke rumah. Ke wajah orang tua yang dulu terasa kokoh seperti pohon tua, yang kini perlahan belajar menua bersama waktu. Ada keinginan sederhana untuk membuat mereka bangga, namun dunia sering terasa lebih rumit dari harapan itu. Ada pula cerita yang dulu dipercaya sebagai tempat kembali. Namun beberapa orang memang hanya singgah sebentar dalam hidup, meninggalkan ruang sunyi yang kadang tiba-tiba terasa lagi saat s...

Bukan Hari Ini

Sudah lama aku berdiri di ambang yang sama, kaki ingin melangkah, namun udara seperti menahanku kembali. Bukan karena tak berani. Bukan pula karena tak tahu arah. Hanya saja setiap kali kusiapkan diri untuk beranjak, ada sesuatu yang tak terlihat menarik ujung bajuku pelan. Aku lelah berada di ruang ini. Dindingnya menghafal napasku, lantainya tahu berat langkahku. Namun pintu itu seolah hanya setengah terbuka, cukup untuk memberi harap, tidak cukup untuk dilewati. Mungkin Tuhan sedang menunda. Mungkin aku yang belum selesai dengan pelajaran yang sama. Ada hari-hari ketika aku hampir pergi, mengemas keyakinan, melipat kecewa, meninggalkan jejak tanpa menoleh. Namun selalu saja waktu menggenggam pergelangan tanganku dan berbisik: belum. Maka aku bertahan. Bukan karena betah, melainkan karena percaya tak ada takdir yang salah alamat. Jika memang harus tinggal, kuatkan dadaku agar tak membatu. Jika memang harus menunggu, jangan biarkan harapku habis sebelum pintu itu benar-benar terbuka. ...

Jeda

Kita tidak pernah membicarakan tentang selamanya. Hanya tentang hari ini, dan esok yang terasa cukup. Namun akhir-akhir ini namaku tak lagi singgah utuh di suaramu. Aku mengenali perubahan bukan dari kata, melainkan dari cara kau memandang kosong lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang kau simpan diam diam. Aku tidak mencarinya. Tidak juga menuduh. Hanya berdiri di tempat yang sama dan merasakan jarak yang tak terlihat. Kita masih berjalan berdampingan. Masih tertawa pada hal-hal kecil. Namun di sela-sela itu ada ruang tipis yang tak lagi bisa kuisi. Jika memang hatimu sedang belajar menyebut nama lain dalam diamnya, aku tak akan memaksa untuk menjadi satu-satunya gema. Aku tidak akan bertanya. Tidak pula memohon. Sebab mencintai tidak pernah tentang bertahan di tempat yang mulai ragu. Jika suatu hari langkahmu tak lagi searah denganku, aku akan mengangguk pelan, seolah memang sejak awal kita hanya persinggahan. Aku tak ingin menjadi jeda di antara dua kemungkinan. Aku siap melangka...

Di Antara Doa yang Kusembunyikan di Laci Meja

Aku sudah menundukkan kepala lebih rendah dari biasanya, bukan pada atasan, bukan pada angka-angka yang menuntut selesai, melainkan pada Mu. Di sela kesibukan yang tak pernah benar-benar selesai, di antara tumpukan berkas dan layar yang menyala, aku menyelipkan doa seperti kertas kecil yang kusimpan di laci paling dalam. Aku lelah, Tuhan. Namun lelahku kupelajari agar tidak berisik. Muakku kupeluk agar tak berubah menjadi amarah. Setiap kali langkahku kembali ke kursi yang sama, aku berkata dalam hati: mungkin ini belum waktunya. Mungkin Engkau sedang menata jalan yang belum sanggup kulihat. Sudah berkali-kali aku mengetuk pintu yang tak kunjung terbuka. Sudah berkali-kali namaku menghilang dalam sunyi balasan. Dengan segala kerendahan, aku tidak meminta lebih. Hanya jalan yang lapang. Hanya tempat yang tidak menggerus perlahan-lahan isi dadaku. Jika memang harus menunggu, kuatkan aku untuk tetap utuh. Jika memang harus pergi, bukakan pintu tanpa membuatku kehilangan harga diri. Aku in...

Musim yang Berbeda

Ia datang tanpa ragu, seperti seseorang yang telah selesai berunding dengan masa lalunya. Di matanya, aku bukan sekadar hari ini, melainkan alamat yang ingin ia tuju. Sementara aku masih sibuk menertawakan sore, menganggap cinta hanya percakapan ringan yang bisa ditinggalkan sebelum gelap benar-benar turun. Ia berbicara tentang rumah dengan suara yang tidak bergetar. Tentang keseriusan seolah itu adalah jalan lurus yang tinggal dilalui bersama. Aku mendengarnya dengan hati yang belum utuh. Di dadaku, cinta masih seperti burung, senang terbang rendah, tak ingin sangkar, meski itu terbuat dari niat yang paling tulus. Ia menggenggam tanganku bukan untuk bermain-main. Ada masa depan di sela jemarinya, ada kesungguhan yang tidak tahu caranya bercanda. Dan di situlah aku merasa kecil, bukan karena ia terlalu berat, tetapi karena aku masih ringan. Terlalu ringan untuk memikul sebuah kata bernama selamanya. Kami berdiri di ambang yang sama, namun musim kami berbeda. Ia telah menjadi tanah yang...

Embun

Malam turun seperti selimut tipis yang ditenun dari napas musim dingin. Kaca berembun, menyimpan rahasia yang tak ingin jatuh menjadi kata. Di antara bayang dan cahaya yang samar, ia mendekat, pelan, seolah takut mengusik hening yang sedang bermekaran. Tangannya melingkar, bukan sekadar pada pinggang, melainkan pada jarak yang sejak lama ingin dipendekkan. Tarikannya lembut, seperti arus kecil yang tahu ke mana harus bermuara. Ia berlabuh di dadanya, di antara detak yang hangat dan udara yang menggigil. Tak ada janji yang diucapkan, namun pelukan itu seperti doa yang tak bersuara, utuh, tenang, abadi dalam sesaat. Perempuan itu diam, Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam lingkar yang aman, seolah dunia di luar kaca tak lebih dari kabut yang tak perlu dimengerti. Embun perlahan menetes, membuat garis-garis tipis yang menyerupai takdir yang tak ingin tergesa. Di dalam pelukan itu dingin berubah arti, bukan lagi tentang suhu, melainkan alasan untuk saling mendekat tanpa perlu alasan lain....

Yang Hampir Menjadi Malam

Tidak ada yang benar-benar menyentuh, hanya jarak yang pelan-pelan kehilangan definisinya. Ia berdiri di belakangmu seperti bayangan yang setia, tidak meminta cahaya, tidak juga pergi. Ada sesuatu yang singgah Pelan tapi pasti, Penuh keberanian, Dan keheningan memilih untuk tinggal sedikit lebih lama. Udara berubah suhu. Waktu melambat tanpa alasan. Kau bisa saja melangkah. Ia bisa saja mendekat. Namun yang terjadi hanya sebuah lingkar tak terlihat yang mengurung kalian dalam detik yang terlalu rapuh untuk diganggu. Ia tidak memelukmu. Ia hanya menjadi ruang yang membuatmu merasa tidak sendirian. Dan anehnya, yang membuat jantungmu bergetar bukan kemungkinan untuk lebih, melainkan fakta bahwa ia menahan diri. Karena cinta yang dewasa bukan tentang seberapa jauh berani melangkah, melainkan seberapa dalam sanggup berhenti. Malam itu tidak meninggalkan jejak. Tidak ada janji. Tidak ada kata. Hanya dua napas yang saling tahu bahwa ada sesuatu yang bisa saja menjadi badai, namun memilih men...

Yang Tak Bisa Dimiliki

Namanya tidak pernah ia sebut keras-keras. Karena yang indah, jika dipanggil terlalu sering, akan kehilangan gaungnya. Ia berjalan dengan tenang seperti seseorang yang sudah pernah kehilangan arah dan memilih untuk tidak tersesat lagi. Matanya bukan sekadar magnet. Ia adalah jurang yang sadar berapa dalam ia mengizinkan orang jatuh. Banyak yang mengira ia bermain. Padahal ia hanya menimbang. Banyak yang mengira ia ringan. Padahal ia hanya tidak mau terlihat berat. Ia tahu bagaimana rasanya menaruh seluruh langit di satu telapak, lalu menyaksikan langit itu runtuh tanpa suara. Sejak itu, ia belajar memelihara api di ruang yang tak bisa disentuh sembarang tangan. Ia tidak cemburu. Ia tidak berebut. Ia tidak menuntut dipilih. Karena perempuan yang tahu nilainya tidak berdiri di antrean. Jika ada yang datang dengan cerita tentang perempuan lain, ia hanya menggeser jarak setipis angin. Tidak marah. Tidak kecewa. Hanya menutup pintu yang bahkan belum dibuka. Ia bukan lembut seperti kapas. Ia...

Lelaki yang Berdiri di Antara

Ia tidak pernah benar-benar masuk. Tapi juga tidak sepenuhnya pergi. Ia berjalan dengan senyum sosial, seperti seseorang yang tahu cara membuat ruangan merasa ringan, tanpa pernah membiarkan siapa pun menimbang isi dadanya. Ada perempuan yang bersuara lembut di sekitarnya. Ada mata yang lebih tajam menatap dari kejauhan. Dan ia… tidak memilih, hanya menggeser arah angin. Ia bercerita tentang kamar yang bukan miliknya untuk dibagikan. Ia menyebut nama lain sambil menunggu getar kecil di wajah yang ia tatap. Lelaki seperti ini tidak berbohong. Tapi juga tidak sepenuhnya jujur. Ia bermain di wilayah aman: cukup dekat untuk terasa, cukup jauh untuk tidak terikat. Ia ingin diinginkan, namun tak ingin dituntut. Ingin dianggap serius, namun belum selesai dengan kebebasannya. Ia berdiri di antara dua perempuan, yang satu lembut seperti doa subuh, yang satu tenang seperti malam tanpa bulan. Dan ia belum sadar bahwa malam yang tenang tidak pernah menunggu. Jika ia terus menimbang, ia akan kehila...

Perempuan yang Tidak Tenggelam

Ia berdiri di tepi arus, bukan karena takut air, melainkan karena ia hafal bagaimana arus bekerja. Orang-orang menyebutnya dingin, padahal ia hanya tahu bahwa hangat yang berlebihan bisa berubah menjadi banjir. Tatapannya bukan undangan, bukan pula penolakan. Ia seperti pintu yang terbuka hanya bagi yang tahu cara mengetuk. Di sekelilingnya, suara-suara lembut berputar, tawa, kabar, kemungkinan. Ia mendengarkan tanpa menjadikan apa pun pusat semesta. Ada yang datang membawa cerita, ada yang membawa bayang perempuan lain, ada yang mencoba menimbang reaksinya. Ia hanya tersenyum tipis, karena badai tak pernah tumbuh di tanah yang tidak ia sirami. Ia pernah hampir hanyut. Itu cukup. Sejak itu, ia belajar memetakan laut sebelum menyentuh airnya. Bukan karena ia tak ingin dicintai, melainkan karena ia tahu cinta yang tidak terukur sering menyamar sebagai ombak. Ia bukan perempuan tanpa rasa. Ia hanya menyaringnya hingga yang tersisa adalah tenang. Jika suatu hari ada yang benar-benar ingin ...

Kita Adalah Dua Arah Angin

Kita tidak pernah berjanji. Kita hanya berjalan dalam garis yang kadang sejajar. Kau adalah angin yang ingin berdiri di samping badai. Aku adalah badai yang belajar memilih kapan harus tenang. Kita tidak saling memiliki, tapi kita saling menguatkan arah. Ada jarak yang tidak pernah kita sebut, bukan karena takut, tapi karena kita cukup dewasa untuk tahu, tidak semua percikan harus menjadi api. Kau menghormatiku seperti tanah menghormati hujan: tidak menggenggam, hanya menerima saat ia turun. Dan aku? Aku berdiri tanpa meminta dipahami. Karena siapa yang cukup tinggi berdiri, akan selalu terlihat, tanpa perlu memanggil.